Mengapa Belajar Komunikasi Itu Penting?: Words Can Change Your Brain

Komunikasi itu tidak perlu dipelajari ?

“Berkomunikasi dan berbicara itu dua hal yang berbeda”

Komunikasi dan bicara itu dua hal yang berbeda loh bisa saja kita berbicara dengan orang lain tapi kita tidak berkomunikasi dengan baik hingga akhirnya terjadi kesalahpahaman dan pertengkaran. Pada buku Words Can Change Your Brain karya Andrew Newberg dan Mark Robert Waldman yang menjadi salah satu sumber untuk membahas mengenai alasan kita untuk belajar komunikasi. Jika kata-kata itu memiliki kekuatan yang luar biasa. Anehnya, terkadang kita merasa kalau semakin banyak kita bicara, kita justru semakin tidak didengar. Mungkin hal ini terjadi karena masing-masing dari kita sibuk berbicara, tapi tidak siap untuk mendengarkan. Alhasil, kita jadi saling tidak memahami satu sama lain. 

Padahal, jika kita belajar soal komunikasi yang baik, hal ini sangat membantu kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Entah saat bernegosiasi dengan seseorang, berdebat dengan pasangan, atau menghadapi orang-orang disekitar, kita bisa belajar untuk menciptakan kondisi yang win-win dan mencegah pembicaraan yang sulit menjadi situasi yang tegang dan meledak-ledak. Sulit rasanya belajar berkomunikasi ketika kita mempunyai kecemasan sosial, overthinking dan trauma sosial. Maka dari itu terdapat 3 hal penting yang sudah dirangkum dari buku Words Can Change Your Brain ini. 

Point pertama ialah komunikasi itu perlu dipelajari, yups disini perlu dipertanyakan pula pada diri kita masing-masing apakah melihat komunikasi sebagai sebuah seni? Mungkin kebanyakan orang jawabannya tidak. Terkadang tidak sedikit yang beranggapan bahwa komunikasi itu tidak perlu dipelajari karena merasa sudah berkomunikasi setiap saat. Namun perlu dipahami berkomunikasi dan berbicara itu dua hal yang berbeda.  Contohnya gini, coba bayangkan kita sedang berkomunikasi dengan balita di umur 3 atau 4 tahun banyak kosa kata yang dilontarkan secara terbatas, tidak jarang kita kesulitan memahami apa yang dikatakan. Sehingga sulit rasanya terjadi sebuah komunikasi hingga akhirnya anak itu tantrum dan mengulang sebuah kata terus menerus. Akan berbeda dengan balita yang tentunya kita sudah berbicara dengan pasif namun kesalahpahaman masih sering terjadi. Kenapa banyak orangtua yang menghabiskan uang untuk mengajarkan anak-anak membaca dan menulis akan tetapi tidak mengajarkan mereka untuk berbicara. Ketika mereka berusia 12 tahun mereka lalu sibuk membaca buku dan belajar hal lain.

Jadi, tidak aneh ketika banyak orang yang masih berkomunikasi seperti halnya anak 12 tahun yang belum tentu punya keahlian untuk berempati dan mengasihi orang lain secara sadar. Padahal dua keahlian ini penting dalam berkomunikasi agar kita bisa merasakan apa yang orang lain rasakan dan memberitahu orang lain apa yang kita inginkan. Tidak aneh rasanya ketika kita dewasa menemukan orang yang tidak tahu caranya membaca situasi, tidak bisa menafsirkan secara akurat apa yang orang lain rasakan dan sebagainya. Ketika bicara soal komunikasi banyak orang salah kaprah yang berarti kita harus banyak bicara, sebaliknya kita justru sedikit bicara tapi banyak mendengar dan kita perlu belajar bagaimana mendengarkan secara mendalam. 

Bagaimana caranya? langkah pertama yang kita lakukan adalah belajar untuk rileks, jadi kita bisa mendengarkan apa yang orang lain katakan tanpa memberikan penilaian apapun. Misalkan, ketika kita memberikan tanggapan kita lebih sadar dan memilih kata apa yang digunakan. Sebenarnya ini adalah cara kita melatih mindfulness dalam kehidupan sehari-hari, ketika bertemu seseorang mulai berbicara lalu mengatakan apa yang muncul di pikiran kita secara spontan. Pada momen inilah perhatikan emosi, pikiran dan juga perasaan kita biarkan semua itu datang dan pergi sehingga kita bisa fokus mendengarkan seseorang bicara dan katakan.  Jangan lupa pula untuk tarik nafas dalam dan hembuskan agar  tubuh kita bisa rileks. Ini adalah momen ketika kita melepaskan penilaian terhadap apapun dan fokus di momen tersebut yaitu mendengarkan lawan bicara. Tidak hanya mendengarkan dengan menggunakan pikiran logis akan tetapi akan banyak membuat penilaian terkait hal apa yang harus dikatakan oleh orang lain tapi kamu juga mendengar melalui bagian otak lain yang berhubungan dengan kebaikan, penuh kasih dan memahami situasi sosial.

Okei, lanjut point kedua yaitu bahasa non verbal. 

Dalam hal ini perlu kita ketahui bagian yang paling penting dalam berkomunikasi adalah memahami wajah atau mimik muka seseorang. Kita harus belajar untuk membaca ekspresi wajah orang lain untuk memahami apa yang sebenarnya dia rasakan. Misalkan gini, ketika kita meminta seseorang untuk melakukan sesuatu untuk menolong kita lalu dia menjawab iya akan tetapi mukanya terlihat kesal. Maka dengan hal ini kita dapat menyimpulkan bahwasanya lawan bicara tidak sungguh-sungguh ingin membantu. Kita mudah menangkap kesimpulan apabila orang lain berusaha memalsukan ekspresi wajahnya. Pastinya senyuman yang tulus dan tidak tulus kita bisa membedakan. Maka dari itu kita bisa belajar cara untuk melontarkan senyum yang tulus yaitu dengan mengulang kembali memori bahagia di

Otak kita, terutama yang berkaitan dengan orang yang dicintai. Hal ini penting karena dengan senyuman dapat menyampaikan rasa percaya, kebaikan, dan ketulusan. 

Komunikasi yang baik merupakan sebuah keahlian penting yang harus dikuasai dalam dunia kerja. Bayangkan ketika kita harus memberikan saran, dalam hal ini kita harus menciptakan suasana konstruktif dan transparan. Pastinya dengan hal ini kita perlu memahami cara otak bekerja. Ketika kita melihat wajah seseorang otak kita secara otomatis mengidentifikasi apakah otak tersebut terlihat bersahabat atau mewaspadai? Sebelum lanjut ke point yang terakhir, mungkin disini juga sudah cukup dipahami dari urgensi mempelajari komunikasi tersebut. 

Baiklah, point ketiga atau yang terakhir yaitu gunakan teknik bicara yang benar.

Otak kita merupakan organ yang luar biasa, kata-kata dapat mempunyai pengaruh yang besar dan mempengaruhi pengalaman yang telah dialami. Menariknya cara kita membawakan sebuah kata atau kalimat ternyata punya pengaruh atas apa yang ingin kita sampaikan. 

Apakah kamu pernah mendengarkan seseorang berbicara dengan tempo yang lambat? mungkin terdengar membosankan, akan tetapi ada manfaat yang tanpa disadari. Hal ini akan membantu kita menyimpan informasi dengan lebih baik. Selain itu mendorong adanya pengertian, rasa saling menghargai, dan kehangatan. 

Sebaliknya ketika berbicara terlalu cepat, pendengar akan sulit memahami apa yang disampaikan. Mereka secara otomatis akan menghilangkan kata yg diucapkan serta beberapa hanya mendengarkan sekilas dan pada akhirnya hal ini hanya melemahkan narasi yang ingin disampaikan. Disisi lain kita tidak perlu menyampaikan banyak hal kok, cukup dengan singkat, jelas dan padat. Aturan umumnya jangan bicara lebih dari 20-30 detik dalam waktu yang sama. Durasi ini banyak menghasilkan waktu perhatian seseorang dalam satu waktu. Jangan lupa pula memberikan jeda saat berbicara, hal ini membantu orang lain mendengar dengan lebih baik sekaligus bisa sebagai cara menekankan point penting yang ingin disampaikan.

Jadi, bagaimana pandangan serta pendapat kalian setelah mengetahui hal ini? 

Sangat penting bukan, untuk kita semua mempelajari komunikasi tersebut?

“Karena kata-kata dapat mengubah otak (pola pikir) kamu”

Penulis: Afifah Salsabilla

Editor: Syathalya Reri Ayilla


Comments

One response to “Mengapa Belajar Komunikasi Itu Penting?: Words Can Change Your Brain”

  1. Sepenting itu komunikasi ✨

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *