
Sebelum pandemi, saya aktif mengikuti berbagai kegiatan di kampus, seperti kegiatan jurusan, forum diskusi dan lain-lain. Saya memanfaatkan waktu luang untuk menulis catatan kecil atau diary yang sering saya bawa ketika kuliah. Selama itu saya belum berani untuk mengikutsertakan karya yang selama ini saya buat setiap kali ada event karya tulis.
Di masa pandemi ini, saya mempunyai banyak waktu luang di rumah. Jelas karena memang ke luar rumah sangat tidak disarankan, paling tidak keluar rumah hanya untuk keperluan yang mendesak dan kegiatan kemanusiaan (relawan). Sering kali rasa bosan hadir, namun perasaan tersebut harus dilawan dengan kegiatan positif. Tentunya, untuk meminimalisir kebosanan tersebut banyak hal yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah “menulis”. Mengapa menulis? Karena dengan kita menulis dapat mengungkapkan banyak ide, pikiran dan perasaan yang kita rasakan juga sebagai investasi kita dalam dunia literasi di kemudian hari.
Ketika berkeinginan untuk menulis sesuatu hal, saya mesti merangkai kata demi kata agar para pembaca paham apa yang ingin saya sampaikan. Tak cuma sampai di situ, makna kalimat dan perpaduan birama kadang juga menjadi pertimbangan bagi saya dan sebagian orang di luar sana yang menginginkan estetika dalam tulisannya. Lebih tinggi lagi, majas-majas juga sering kali menyebabkan saya sakit kepala hanya untuk mengungkap sesuatu yang sebenarnya terbilang sederhana. Sebuah tulisan tidak akan berkesan jika hanya berisi kata-kata saja. Karena itulah tidak sembarang karya tulisan dapat berkesan dan diingat oleh pembaca. Dengan keterampilan menulis ini saya tidak membutuhkan banyak fasilitas. Ya, dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja, secara konvensional/sederhana dengan hanya menyiapkan kertas dan pulpen atau dengan teknologi yang berkembang pesat saat ini seperti laptop, handphone, atau lainnya
Selama pandemi ini, lomba karya tulis mayoritas diselenggarakan secara online. Terkadang saya menang, tetapi pernah kalah juga. Dalam menang atau kalah, saya tak kenal lelah untuk selalu men-support diri saya sendiri untuk terus berusaha dalam berkarya. Berkat keinginan saya untuk terus berusaha dalam kepenulisan ini, menghantarkan saya kepada kejutan luar biasa yang tak dapat disangka-sangka. Yap, beberapa bulan terakhir ini, sampailah saya kepada hasil daripada usaha yang telah dilakukan. Kemenangan pun akhirnya menghampiri.
Selama perlombaan berlangsung, penyelenggara event akan memilih karya/naskah terbaik dari seluruh peserta dengan ketentuan yang telah ditetapkan, yang kemudian akan dibukukan menjadi sebuah karya serta dikirimkan kepada para pemenang dengan prosedur yang berlaku. Ada juga ketentuan lomba yang hanya cukup membayar pendaftaran kemudian mengirimkan naskah dan terakhir menunggu pengumuman pemenang melalui media social dan email penyelenggara.
Selain itu, semangat menulis ini berawal dari ketidakpuasan saya ketika mengikuti event puisi tingkat internasional tahun lalu yang diadakan oleh Pusat Lomba Seni (PLS) dengan perolehan kategori Diligent Writer. Dalam 5 bulan terakhir ini mulai dari Maret-Agustus 2021 alhamdulillah sudah mengikuti beberapa event terkait lomba cipta puisi dengan berbagai penghargaan. Mulai dari Juara 1, kontributor terbaik, penulis terbaik, penyair terbaik dan menulis buku antologi tingkat nasional yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga literasi. Di antaranya event yang diadakan oleh Yayasan Tasik Zona Barokah, Lintang Indonesia, Pena Artas, Antaraksa, Literasi Nasional Kreatif, Genta Official, GEN Foundation, dan beberapa penyelenggara lainnya. Namun bukan hanya itu, beberapa bulan ke depan saya masih menunggu pengumuman pemenang dari beberapa penyelenggara event juga menunggu kedatangan karya puisi yang telah dibukukan.
Terakhir, di bulan Agustus ini saya mendapat perolehan juara 1 lomba puisi tingkat nasional dari 1335 peserta di seluruh Indonesia yang diselenggarakan oleh Celah Teduh dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-76 tahun dengan tema “Harapan untuk Bumi Pertiwi di Masa Pandemi”. Saat itu, puisi saya ciptakan setelah usai pengibaran bendera merah putih di tingkat kecamatan tepatnya di hari terakhir pendaftaran lomba tersebut. Isi dari puisi yang saya ciptakan merupakan perpaduan antara harapan pandemi ini agar cepat menghilang demi kesembuhan bumi pertiwi lalu mengenang semangat juang para pahlawan terdahulu dan harapan yang tinggi terkait keadilan (hukum), pemulihan ekonomi, kesehatan dan pendidikan juga ajakan untuk seluruh masyarakat Indonesia agar memiliki tekad kuat dalam merajut tali temali dan menyusun/ membangun struktur dan budaya yang damai.
Bersyukur dan bahagia yang saya rasakan selama masa pandemi ini, yakni bisa lebih produktif dalam dunia literasi juga mampu untuk menciptakan karya. Tentunya karya yang diciptakan mayoritas sesuai dengan kondisi negara kita saat ini.
Kita harus bangkit dan berusaha sekuat tenaga.
Hadapi dengan penuh upaya dan do’a.
Saling bergandengan tangan dan eratkan jari jemari.
Menjadikan modal besar unsur proklamasi
Begitulah cuplikan dari salah satu karya puisi yang telah saya ciptakan.
Menurut saya menulis dalam kondisi pandemi yang serba keterbatasan ini dapat memberikan akses yang mudah. Seperti melakukan riset/ mencari referensi yang sudah banyak ditemukan menggunakan internet dengan berbagai kemudahan yang ada juga menilai setiap tempat yang telah dan sedang kita lalui.
Kegigihan kita di dalam dunia literasi saat ini merupakan salah satu aktivitas produktif, menulis apapun tidak hanya menulis ilmiah tetapi juga menulis ragam non ilmiah/populer. Kita tidak dapat menulis jika kurangnya pembendaharaan kata atau bahasa yang disebabkan oleh rasa malas dalam membaca, karenanya membaca adalah kunci. Keterampilan kita dalam pengamatan yang fokus juga perlu dilatih terus-menerus, untuk menilai fenomena yang terjadi. Ketika ide itu muncul, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menulis langsung ide tersebut dan menyusunnya menjadi outline.
Jelas zaman sekarang banyak sekali platform yang dapat kita manfaatkan dalam kepenulisan. Kita hendaknya dapat memanfaatkan media apapun untuk diberdayakan dalam menciptakan karya yang kreatif. Selain itu ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk melahirkan ide dalam karya tulisan, yakni dengan melakukan sharing dan diskusi, mencari referensi/sumber dan membaca, melihat serta mengamati sesuatu, melakukan survei dan belajar dari pengalaman. Kemudian lakukan tindakan yang dimulai dari hal kecil sangatlah penting untuk merealisasikan tulisan kita. Mulailah menulis meskipun hanya satu paragraf, buatlah tulisan meski masih banyak kesalahan, dan menyegerakan untuk menulis. Dengan begitu yuk biasakan menulis. Meski untuk diri kita sendiri di blog atau di diary dan jangan lupa biasakan diri untuk membaca sebelum kita menulis. Terus berusaha dan jangan patah semangat.!!
“Jika sudah musimnya hujan akan turun, jika tiba masanya bunga mekar, jika tiba waktunya, doa-doa akan dikabulkan. Hal-hal terbaik pasti akan terjadi”
Penulis: Minaha Nisatul Kholis_UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Hilya Maylaffayza (Komuniasik Campus Ambassador Batch 2)

Leave a Reply