Berwisata ke desa-desa di kaki gunung bukan hanya soal menikmati alam, tetapi juga merasakan kehidupan yang lebih dekat dengan keaslian. Begitu pula saat menjejakkan kaki di kawasan Gunung Kerinci, Jambi, yang menyuguhkan pesona alam luar biasa sekaligus tantangan bagi pecinta petualangan sejati.
Gunung Kerinci menjulang gagah setinggi 3.805 meter menjadikannya bagian paling mencolok dari bentang alam Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), situs Warisan Dunia UNESCO. Dari jauh, siluetnya tampak anggun dikelilingi hamparan perkebunan teh dan hutan tropis yang sejuk. Namun bagi pendaki, pesonanya baru benar-benar terasa ketika langkah kaki mulai menapaki jalur menuju puncak.
Pendakian biasanya dimulai dari desa Kersik Tuo, sebuah perkampungan yang ramah dengan suasana pedesaan khas dataran tinggi. Udara dingin berpadu dengan aroma kopi lokal yang menggoda menjadi pembuka perjalanan. Tak lama setelah itu, jalur mulai menanjak melalui rimba lebat yang masih alami. Suara burung, serangga, dan gesekan dedaunan menjadi irama alami yang menemani sepanjang pendakian.
Butuh waktu sekitar delapan hingga sepuluh jam untuk mencapai puncak Mahligai. Namun semua lelah terbayar saat fajar menyingsing di puncak Kerinci. Cahaya keemasan perlahan menembus kabut, memperlihatkan kawah hijau kebiruan dan lautan awan yang bergulung di bawah kaki. Dari sini, pemandangan Danau Gunung Tujuh dan hutan luas Taman Nasional Kerinci Seblat tampak seperti lukisan alam yang hidup.
Bagi masyarakat sekitar, Gunung Kerinci bukan sekadar gunung, melainkan tempat yang disakralkan. Gunung Kerinci adalah perjalanan spiritual yang mengajak kita memahami bahwa kebesaran Sang Pencipta tercermin dalam setiap goresan tebing, setiap hembusan angin, dan setiap langkah kecil yang membawa kita semakin dekat dengan langit. Sehingga Pendaki diharapkan menjaga ucapan dan sikap selama berada di jalur pendakian. Sikap hormat terhadap alam menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun.

Leave a Reply