Gadis Kampung Juga Bisa Kuliah dengan Beasiswa Pemerintah

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Hallo temen-temen semua, Semoga temen-temen selalu dalam limpahan sehat dan kebahagiaan ya 😊

            Sebelumnya, Perkenalkan Aku Firdarini, panggil rini saja. Aku gadis asli Aceh yang sekarang sedang merantau ke ibukota, tepatnya di kota Tangerang Selatan. Aku seorang mahasiswi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta semester 6. Kali ini, aku bakal share sedikit pengalamanku dalam mendapatkan beasiswa Unggulan Masyarakat Berprestasi langsung dari Kemendikbudristek RI. So, semoga bermanfaat dan bisa membantu temen-temen yang sedang mempersiapkan diri untuk mendaftar Beasiswa. Semangattt yaaa!

            Bismillah, barangkali ada yang sudah pernah atau belum pernah mendengar Beasiswa Unggulan. Ya, itulah beasiswa yang sangat membantu perkuliahanku hingga sekarang. BU singkatannya merupakan beasiswa yang disediakan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan. Riset, dan Teknologi tepatnya di Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan. Di mana Beasiswa Unggulan ini ditujukan untuk PUTRA-PUTRI TERBAIK BANGSA yang telah diterima atau sedang berkuliah maksimal semester 3 di salah satu universitas (dibuktikan dengan LoA/Surat aktif mahasiswa) serta pastinya yang telah lolos seluruh rangkaian seleksi untuk melanjutkan jenjang pendidikan tinggi S1, S2, dan S3.

            Aku sendiri menjadi penerima BU kategori Masyarakat Berprestasi. Perlu temen-temen ketahui, ada 3 jenis beasiswa yang disediakan BU yakni kategori Masyarakat Berprestasi, Pegawai Kemendikbud, dan Daerah 3T (tahun ini diganti untuk Disabilitas). Karena aku lolos BU melalui jalur masyarakat berprestasi, aku akan bahas perjalananku bagaimana aku bisa lolos beasiswa ini. Eitss, untuk 2 kategori lainnya (Pegawai Kemendikbud dan Disabilitas) temen-temen silakan check di webnya yaa https://beasiswaunggulan.kemdikbud.go.id/

BU Masyarakat Berprestasi

Ini bermula pasca kelulusanku di sebuah kampus di Jakarta. Ada rasa ragu dalam diri, pasalnya biaya hidup yang terbilang cukup mahal dan ibuku yang biasa kupanggil dengan sebutan Uma sedang terbaring sakit di kampung. Dalam hal seperti ini tentunya juga memerlukan biaya pengobatan. Aku teringat ketika SMA dulu, beberapa kakak tingkatku mencari informasi terkait beasiswa baik dalam maupun luar negeri. Dua orang teman yang juga merupakan teman kamar ketika di asrama sangat antusias menyiapkan segala berkas dan persyaratan untuk mengajukan beasiswa dalam negeri yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI yaitu Beasiswa Unggulan. Beasiswa yang menanggung biaya hidup, biaya buku, dan biaya pendidikan ini membuat harapan dan semangatku mulai tumbuh lagi untuk menimba ilmu di ibukota.

Kemudian, aku mulai mencari informasi BU ini dan berusaha melengkapi persyaratan-persyaratan. Di sini, aku mempersiapkan semua berkas hanya bermodalkan melihat contoh di internet dan konsultasi dengan kakak tingkat di SMA terkait penulisan essay dan proposal studi (yang bukan penerima beasiswa terkait) membuat aku sedikit kesulitan. Akan tetapi, hal itu tidak mengecilkan semangatku untuk tetap MENCOBA mendaftar beasiswa ini. (Untuk temen-temen pejuang beasiswa, tidak ada lagi kata malas dan tidak percaya diri karena sudah sangat banyak komunitas penerima beasiswa dan info beasiswa jenis apapun hingga contoh-contoh dokumen persyaratan Beasiswa terkait yang tersebar). Jangan males nyari info 😊

Tepat seminggu pascaverifikasi, tanggal 7 Agustus 2018 pukul 01:27 aku mendapat email dari BPKLN Kemendikbud bahwa dinyatakan LULUS seleksi tahap 1. Berita ini sangat menggembirakan sekaligus menjadi berita sedih bagiku. Jarak tiga hari itu membuat aku harus segera memesan tiket penerbangan ke Jakarta di hari pengumuman itu. Tiket yang terbilang mahal membuat orang tuaku harus meminjam uang dulu ke paman. Alhamdulillah, setelah tiket terpesan aku langsung menyiapkan barang-barang dan perlengkapan kuliah karena aku tidak balik ke kampung sampai masuk perkuliahan.

Tanggal 10 Agustus 2018 ialah hari tes seleksi tahap 2.  Aku harus membawa seluruh bukti berkas yang telah terunggah di akun. Pagi itu, aku berangkat bersama paman yang di Bekasi menuju hotel dilaksanakannya tes tersebut. Semua persiapan dan pemantapan essay, proposal studi, dan berkas persyaratan sudah kusiapkan malam harinya. Aku tertegun melihat antrian peserta yang telah hadir. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengantri. Aku mencoba bertanya kepada orang yang di depanku agar tidak salah berdiri dikarenakan setiap jenjang S1, S2, S3 dibedakan. Mendengar dialeg bicaraku, orang itu memandangiku dan bertanya, “ Kamu orang Aceh Selatan?”, dengan senang hati aku menjawab “Iya”. Setelah itu, dia langsung mengatakan bahwa dia sekampung denganku, Aceh Selatan. Dari sini, dia banyak membantuku pada tes tahap 2 ini. Dia yang dulunya sudah pernah mengikuti tes beasiswa ini di batch 1 memberi tahuku apa saja yang harus dipersiapkan nantinya di dalam ruangan. Aku terus yakin bahwa Allah sudah menggariskan ini semuannya. Bertemu dengan teman satu kampung sungguh membuatku semakin percaya diri bahwa orang kampung juga bisa mendapatkan beasiswa asalkan selalu dilakukan dengan niat baik dan penuh perjuangan.

Beberapa menit setelah melakukan registrasi ke panitia, namaku dipanggil dan dipersilakan masuk ke dalam ruang wawancara. Sebelum masuk ke ruangan, ada satu hal yang tak pernah terlupakan yang merupakan pesan Abah yakni membaca Al-Fatihah. Di  depan pintu aku berhenti sejenak melihat suasana tes seleksi. Ada sekitar dua puluh meja yang telah tertata rapi lengkap dengan penguji. Oleh panitia aku diarahkan ke meja seorang ibu yang memakai baju batik lengkap dengan kacamata di atas kepalanya. Sambil terus berzikir di dalam hati, aku pun dipersilakan duduk. Seperti layaknya wawancara beasiswa lainnya, hal-hal yang ditanyakan ialah seputar kondisi keluarga, pendidikan, dan sedikit penjelasan tentang essay. Aku sangat bersyukur karena semua yang terjadi tidak seperti apa yang aku bayangkan. Di mana sepanjang wawancara berlangsung beliau sangat ramah dan bersahabat layaknya berbicara dengan uma di rumah. Kejadian ini sangat berbeda dengan beberapa teman yang bercerita setelah mereka diwawancara dengan penguji yang agak sensitif. Aku terus senantiasa bersyukur semoga ini bisa menjadi salah satu hal yang bisa  kupersembahkan untuk keluarga terutama Abah dan Umah.

Beberapa minggu berlalu dan aku harus masuk asrama di tanggal 24 Agustus 2018. Pada saat itu masih belum terdengar berita pengumuman kelolosan BU. Aku menjalani aktivitas sebagai mahasiswa baru dengan terus berdoa dan meminta doa kepada saudara dan teman. Suatu ketika dengan rasa percaya diri yang tinggi, aku membuka akun dan melihat pemberitahuan “anda dinyatakan tidak lulus”. Aku langsung diam dan mengucapkan alhamdulillah. Aku meyakini semua yang terjadi di dunia ini sudah atas kehendakNya. Akan tetapi, dalam hati kecilku, Aku yakin lulus ditambah dengan para teman peserta beasiswa unggulan lainya yang mengatakan akan ada pengumuman kedua karena yang pertama ini lebih dikhususkan untuk mahasiswa 3T. Bukan hanya itu, pemberitahuan yang berubah-ubah di akun membuatku kembali bertanya-tanya. Dari tidak lulus menjadi belum lulus, belum lulus menjadi tidak diterima. Pada saat itu, aku belum memberi kabar apa pun ke keluarga di kampung karena ada rasa optimis lulus di hati. Aku senantiasa menunggu kabar baik pengumuman beasiswa itu. Gelisah, takut, optimis, dan penasaran untuk membuka email aku rasakan pada saat itu hingga membuat aku lupa akan beasiswa itu.

Benar saja setelah dua bulan berlalu, tepat tanggal 6 November 2018 pukul 03:31 pagi, aku terbangun dan melihat ada pemberitahuan email di telepon genggamku. Ketika aku membukanya, syukur tiada henti Allah mengabulkan doaku. Aku dinyatakan lulus sebagai penerima beasiswa unggulan batch 2 tahun 2018.

Pagi harinya, aku langsung memberikan kabar bahagia ini kepada orang tua. Aku merasakan keharuan dari suara Abah Umah. Mereka berpesan agar aku dapat memanfaatkan sebaik mungkin fasilitas yang telah diberikan dan jangan menjadi orang yang tinggi hati. Bukan hanya keluarga, aku juga mengabarkan berita baik ini ke saudara-saudara. Aku mengucapkan terima kasih, mungkin ini doa dari sekian banyak doa yang telah mereka panjatkan. Alhamdulillah…

Akhirnya sampai di akhir kisahku, aku ingin membagi kebahagiaan dan rasa syukurku kepada temen-temen pejuang beasiswa yang sedang membaca ini. Aku ingin memberikan sedikit tips dan trik untuk bisa meraih beasiswa ini versi diriku:

Tahap Seleksi Administrasi:

            Pada tahap ini, pastikan kamu sudah membaca dan memahami persyaratannya. Lampirkan dokumen dengan data terakurat, sertifikat terbaik, baik penghargaan dan bidang lainnya untuk menunjang lulus beasiswa. Tak lupa untuk membuat list dokumen apa saja yang harus dilampirkan sebagai reminder kamu agar tidak ada yang terlewati satu pun serta hindari submit berkas di akhir-akhir waktu karena kemungkinan besar website-nya outcapasity, Kamu yang sudah lampirkan semua dokumennya tiba-tiba harus kalah hanya karena kesalahan kecil ini.. Dihindari yaaa !!

Tahap Seleksi Wawancara:

            Di tahap ini, kamu harus jujur apa adanya sesuai dirimu, tidak perlu mengada-ada karena semua datamu sudah ada di mereka sebelumnya. Pastikan kamu menguasai semua berkas yang sudah dilampirkan di tahap 1 (terutama essay). Cari contoh pertanyaan dan jawaban yang sekiranya akan ditanyakan plus latihan untuk menyampaikan jawaban itu.

And last but its being your meaningful journey Minta restu ke orang tua, saudara, guru-guru, dan temen-temen. Yakinlah bahwa segala hal yang dilakukan dengan niat dan usaha terbaik maka akan diberikan balasan yang terbaik pula menurut-Nya, insya Allah.

Untuk detail bahasan berkas dan teknis dalam pendaftaran BU, kita lanjut di part 2 ya.

Temen-temen yang ingin mengenalku dan tanya-tanya lebih lanjut, yuk kita terhubung di sosial mediaku

IG: @firdarinii

Penulis: Firdarini_UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Hilya Maylaffayza_Komuniasik Campus Ambassador Batch 2


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *