“Kamu kok gitu sih? Alah gitu doang mah aku bisa! Kamu tuh banyak kurangnya! Emang kamu bisa apa sih?!”
Kalimat ini mungkin hanya terdengar ringan. Banyak yang menganggap hanya sebagai bentuk bercandaan antar teman, keakraban atau candaan anak-anak semata. Namun, tidak ada yang tahu jika kalimat ini akan menorehkan luka yang tak terlihat serta mengakibatkan kurangnya kepercayaan diri dan harga diri bagi anak.
Bullying merupakan bentuk tindakan agresif yang disengaja dan berulang untuk menyakiti, mengintimidasi, atau merendahkan orang lain baik dengan lisan atau dengan kekerasan. Bullying sudah mulai marak dilakukan dan banyak terjadi oleh anak-anak sekolah. Awalnya mungkin hanya untuk bercanda, tetapi ketika candaan berubah menjadi ejekan, penghinaan, atau pengucilan, di situlah bullying mulai mengambil peran.
Kondisi ini dapat dimulai dari teknologi yang semakin pesat. Melalui media sosial, video pendek, atau game online, anak-anak akan melihat berbagai macam perilaku, termasuk perilaku agresif atau saling merendahkan yang kemudian mereka lakukan dalam kehidupan nyata. Ketika tindakan mengejek atau mempermalukan orang lain dianggap lucu di dunia maya, hal itu sering kali terbawa ke dunia nyata sebagai hal yang “biasa”. Faktor lingkungan juga dapat menyebabkan bullying, misalnya karena keluarga yang tidak harmonis, pola asuh yang kurang baik, dan kurangnya edukasi tentang bahaya bullying di sekolah. Selain itu, beberapa anak melakukan perundungan agar diterima dalam kelompok atau dianggap keren oleh teman-temannya.
Banyak korban bullying akan merasakan kehilangan kepercayaan diri atau bahkan akan merasakan trauma dalam kehidupannya dan untuk pelaku bullying, mereka akan merasakan kurangnya empati dimasa mendatang. Untuk itu, peran orangtua dan lingkungan sekitar sangatlah penting dalam mencegah bullying. Orangtua harus memberi keamanan dan membangun komunikasi yang kuat dengan anak. Guru harus peka terhadap situasi dan kondisi yang terjadi di sekolah, dan masyarakat harus menyadari bahwa bullying bukanlah sekedar bercandaan semata.
Anak-anak seharusnya tumbuh dengan saling menghargai, saling mengasihi dan menyayangi, bukan untuk saling menyakiti. Bullying harus dimusnahkan demi menjaga masa depan anak yang bermoral dan beretika. Karena dari merekalah masa depan bangsa dimulai dan hanya dengan lingkungan yang penuh empati, kita dapat menumbuhkan generasi yang berani, peduli, dan berperikemanusiaan.

Leave a Reply