Bu Tejo Dalam Kacamata Komunikasi

Frasa “Bu Tejo”, nama karakter utama pada film “Tilik”, jadi trending di Twitter, menunjukkan kesan mendalam yang ditinggalkan karakter tersebut kepada para penonton film. “Tilik” sendiri telah diproduksi pada tahun 2018 oleh Ravacana Films dan ditayangkan di Youtube Ravacana Films.

Dalam bahasa Jawa, ’tilik’ berarti menjenguk orang sakit. Sama seperti artinya, film ini mengangkat kisah rombongan ibu-ibu yang menempuh perjalanan dengan truk untuk menjenguk Ibu Lurah mereka di rumah sakit. Sepanjang perjalanan, banyak celotehan ibu-ibu yang kebanyakan berpusar pada Dian, seorang kembang desa di tempat mereka berasal.

Adapun banyak penonton yang geregetan dengan sosok Bu Tejo. Dia menjadi simbol emak-emak toxic dalam pergaulan paruh baya masa kini: sok melek digital dan nyinyir. Sosok Bu Tejo diciptakan sebagai refleksi masyarakat Indonesia hari ini.

Karakter Bu Tejo dari perspektif kajian budaya. Dialog antara Bu Tejo dengan warga lain di bak truk serta dialognya dengan polisi yang melakukan penilangan, merupakan representasi kehidupan keseharian dan memiliki nilai kepentingan. Misalnya Bu Tejo, punya kepentingan politik untuk mempromosikan suaminya menjadi calon kepala desa. Dengan menggunakan analisis relasi kuasa-pengetahuan dari Michel Foucault, film ‘ Tilik’ menunjukkan bagaimana kuasa itu tersebar dan tidak terlembaga.

Dalam film ini tergambar bagaimana sikap Bu Tejo saat sosok Yu Ning menyinggung soal pencalonan suami Bu Tejo menjadi Lurah. Bu Tejo juga tidak segan menyinggung  kondisi rumah tangga Bu Lurah yang ditinggal oleh suaminya. Karakter Bu Tejo berusaha menyampaikan pengetahuan yang sesuai dengan kepentingan kuasanya.

saat berbicara mengenai informasi dari internet, ada relasi kuasa-pengetahuan yang terlihat dalam percakapan itu. Dalam hal ini, Bu Tejo menerima informasi apa adanya dari internat dan menjadikannya sebagai klaim untuk kebenaran demi kepentingan politik. “Di sini terjadi relasi kuasa dan pengetahuan dengan menggunakan informasi dari internet sebagai pengetahuan. Namun, ada hal yang tidak sesuai dengan kepentingannya yaitu saat berdebat soal Dian.

Film “Tilik” dan Bu Tejo merefleksikan banyak hal terkait kehidupan kita sebagai warga dalam bersosialisasi dan berkomunikasi. Penulis berharap para penonton dapat mengambil banyak pelajaran dari film “Tilik” khususnya.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *