Bahasa Planet Ala Grindboys: Dari Candaan Jadi Gaya Hidup

Bahasa selalu mencerminkan perubahan budaya. Di era digital, generasi muda tidak hanya menciptakan kata baru, tetapi juga menghadirkan bunyi baru yang mencerminkan ekspresi, gaya hidup, dan identitas sosial mereka. Salah satu contohnya adalah munculnya istilah seperti “vhoom”, “zhaam”, dan “bhaap” kata-kata yang awalnya asing, namun kini akrab di telinga anak muda Jakarta. Uniknya, istilah-istilah ini bukan lahir dari kamus, melainkan dari dunia konten kreator bernama Grindboys.

Asal-usul: Dari Grindboys ke “Bahasa Alien”

Grindboys merupakan kelompok kreator asal Jakarta yang beranggotakan Rico Lubis, Gofar Hilman, dan Wanda Oke. Mereka dikenal melalui konten berbau komedi absurd yang sering mengangkat budaya tongkrongan khas Jakarta. Lewat gaya bercanda yang spontan, mereka menciptakan apa yang disebut para penggemarnya sebagai “bahasa alien”, yakni kumpulan diksi unik seperti “Zhaam”, “Bhooop”, atau “Bhaapphh”. 
Misalnya, dalam podcast Wawancanda Rico Lubis – VHOMB, ZAMB, MR. HONEST, dari kanal YouTube Abdel Achrian, Rico Lubis beberapa kali mengucapkan kata seperti “vhomb” dan “zamb”. Ungkapan ini tidak dimaksudkan secara literal, melainkan sebagai ekspresi spontan semacam efek bunyi yang mewakili emosi. Ia terdengar seperti perpaduan antara bahasa komik, slang tongkrongan, dan nuansa budaya digital. 

Artikel Medium berjudul Bahasa Grind Boys, Bahasa Abang-abangan yang Menyebrang ke Kekinian turut memperkuat hal ini. Artikel tersebut menyebut bahwa istilah seperti “Zhaamm”, “Bhoooppp”, dan “Bhaapphh” diciptakan oleh Rico sebagai bentuk bahasa komik—terinspirasi dari efek suara onomatope seperti “BAM!” atau “ZAP!” dalam komik. Bahasa ini bukan hanya lelucon, tetapi juga representasi kreativitas verbal Grindboys yang kemudian berkembang menjadi tren komunikasi di media sosial.

Dari Candaan Jadi Tren Digital

Awalnya, kata-kata seperti zhaam, vhoom, dan bhaap hanya digunakan dilingkungan Grindboys. Berdasarkan wawancara dengan Jakartashowbizdotcom, Rico Lubis mengatakan kalau “bahasa alien” tersebut sudah digunakan selama 20 tahun, yaitu sejak ia SMA. Namun, seiring meningkatnya popularitas mereka di media sosial, istilah-istilah tersebut menyebar luas melalui potongan video di TikTok dan Instagram Reels. Banyak anak muda mulai meniru gaya bicara ini dalam percakapan santai. Contohnya, “Wah bro, tadi pas nongkrong tuh zhaam banget sih!” yang bermakna keren, gokil, atau intens. 

Menariknya, bahasa ini bersifat fleksibel tanpa makna pasti, namun sangat ekspresif. Ia berfungsi layaknya emoji verbal di era digital: menyampaikan perasaan tanpa banyak kata. Dalam komunikasi anak muda, vhoom bisa menggambarkan semangat tinggi, bhaap menandakan rasa kaget atau takjub, sementara zhaam sering digunakan untuk mengekspresikan sesuatu yang “nendang” atau “kena banget”.

Antara Bahasa dan Gaya Hidup

Penggunaan bahasa alien ini tidak hanya sekadar tren humor, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup anak muda urban. Siapa pun yang memahami konteks kata seperti zhaam atau bhaap otomatis dianggap “masuk vibe” Grindboys, simbol kebersamaan dan keakraban dalam dunia digital. Bahasa ini menjadi tanda identitas budaya baru: gabungan antara humor absurd, spontanitas, dan kecepatan komunikasi khas generasi media sosial. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa slang masa kini tidak lagi lahir dari jalanan atau musik, melainkan dari ruang digital yang melahirkan subkultur baru. Grindboys, melalui kreativitas mereka, sukses menciptakan bentuk komunikasi unik yang melampaui arti kata bahasa yang bisa dirasakan, bukan sekadar didengar. 

Jadi, jika ada teman kalian tiba-tiba berkata, “Cuy, itu tadi bhaap banget!”, jangan heran. Itu bukan suara alien sungguhan, melainkan ekspresi khas era digital ketika tawa, bunyi, dan gaya bicara berpadu menjadi bahasa baru. 

By Abdullah Mustaqim


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *