Antara Silent Treatment dan Ghosting

Mau tahu kenapa banyak hubungan, baik itu persahabatan maupun percintaan, tiba-tiba jadi renggang? Pernahkah kalian merasakan di-‘ghost’-ing atau justru memberi ‘silent treatment’? Yuk, kita kupas tuntas dua fenomena ini yang seringkali membuat kita bertanya-tanya.

Dalam dunia yang semakin terhubung ini, fenomena seperti Silent Treatment dan Ghosting menjadi semakin umum. Meski teknologi telah memudahkan kita untuk terhubung, paradoksnya, semakin banyak orang yang memilih untuk “memutus” komunikasi.

Silent Treatment adalah keputusan seseorang untuk memutus komunikasi secara sepihak sebagai bentuk hukuman psikologis atau menghindari konflik. Di sisi lain, Ghosting adalah aksi menghilang tiba-tiba dari kehidupan seseorang tanpa alasan yang jelas atau pemberitahuan. Banyak orang bingung antara dua istilah ini, tapi sekarang kamu sudah tahu bedanya, kan?

Dulu, ketika media sosial dan komunikasi instan belum ada, Silent Treatment dan Ghosting sudah ada, tetapi efeknya tidak seburuk sekarang. Dengan keberadaan media sosial, fenomena ini menjadi lebih kompleks dan merusak psikologis seseorang.

Silent Treatment dan Ghosting adalah dua taktik komunikasi yang sangat merusak hubungan. Keduanya menunjukkan ketidakmampuan untuk menghadapi masalah secara langsung dan malah memilih untuk melarikan diri. Menurut Jennice Vilhauer, seorang psikolog di The Well Mind Institute di Beverly Hills, California sekaligus Asisten Profesor Klinis di University of California, Los Angeles, ghosting dan silent treatment dapat berdampak serius pada kesehatan mental seseorang. Sehingga dampak ghosting tidak boleh dianggap sepele.

Ada banyak alasan mengapa seseorang memilih untuk melakukan Silent Treatment atau Ghosting. Hal ini bisa disebabkan oleh rasa takut menghadapi konflik, trauma masa lalu, atau bahkan kelelahan emosional.

Misalnya, A dan B adalah sahabat karib. Setelah sebuah argumen hebat, A memilih untuk tidak lagi merespons pesan dari B, bahkan mengabaikan di ruang publik. Ini adalah contoh dari Silent Treatment. Di kasus lain, C dan D yang baru mulai berkencan, tiba-tiba D menghilang: tidak ada pesan, tidak ada panggilan, bahkan meng-unfollow media sosial C. Ini adalah contoh dari Ghosting.

Perlu kita sadari, dampak dari Silent Treatment dan Ghosting ini bisa lebih dari sekadar merasa ditinggalkan. Hal ini bisa merusak kepercayaan dan bisa jadi menimbulkan masalah emosional jangka panjang. Bayangkan saja, siapa yang akan merasa nyaman jika diabaikan atau ditinggalkan tanpa penjelasan?

Orang yang mendapatkan perlakuan Silent Treatment umumnya akan merasakan berbagai dampak negatif, mulai dari kebingungan, ketakutan, hingga merasa marah, ditolak, dan dikucilkan. Dampak ini bisa berkembang menjadi masalah serius, termasuk gangguan kesehatan seperti fibromialgia, gangguan makan, sindrom kelelahan kronis, kecemasan, dan depresi, terutama jika perlakuan ini berulang kali terjadi.

Solusinya, mari kita jadi lebih dewasa dalam berkomunikasi. Jangan lari dari masalah. Kalau merasa terjepit atau emosi, bicarakan. Ingat, komunikasi adalah kunci. Dengan terbuka dan jujur, kita bisa meminimalisir atau bahkan menghindari dampak negatif dari Silent Treatment dan Ghosting ini.

Sebagai langkah awal, kita bisa mulai dengan lebih memahami diri sendiri dan orang lain. Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional jika Anda merasa fenomena ini telah merusak kehidupan Anda atau hubungan Anda dengan orang lain.

Penulis : Hafiz Maulana

Editor : M Banu Naqueb


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *