Film Rangga & Cinta (2025) menghadirkan napas baru bagi kisah klasik yang pernah menjadi ikon sinema romantis Indonesia. Berbeda dari versi sebelumnya, film ini menampilkan hubungan dua remaja SMA dalam format musikal. Musik tidak lagi sekadar latar, melainkan bagian utama dari cerita yang menggerakkan emosi penonton. Dengan pendekatan penyutradaraan yang segar, film ini menempatkan musik dan puisi sebagai inti dari kisah cinta yang ekspresif dan puitis.
Setiap lagu dalam film ini dibuat untuk menggambarkan perjalanan batin para tokohnya. Mulai dari rasa bangga, persaingan, hingga cinta yang perlahan tumbuh di antara Rangga dan Cinta. Selain itu, nyanyian berfungsi menggantikan dialog, menjadi bahasa ekspresi yang menyampaikan perasaan terdalam. Ketika Cinta menyanyikan puisinya di panggung lomba, atau saat Rangga melantunkan nada lirih di perpustakaan sekolah, musik menjadi jembatan emosi yang halus dan jujur.
Lagu-lagu orisinal karya komposer muda Indonesia menjadi kekuatan utama film ini. Aransemen musik yang memadukan unsur pop, jazz, dan orkestrasi modern menciptakan suasana lembut namun dinamis. Kemudian, setiap lagu memperkuat perkembangan karakter. Penonton dapat melihat bagaimana Cinta belajar memahami keheningan Rangga, dan bagaimana Rangga menemukan keberanian melalui kata dan nada.
Lagu tema utama berjudul “Nada di Antara Kita” menjadi salah satu momen paling berkesan. Lagu ini dibawakan langsung oleh dua pemeran utama, El Putra Sarira dan Leya Princy. Melalui harmoni vokal mereka, penonton dapat merasakan chemistry yang alami, meski keduanya adalah pendatang baru. Lagu ini melambangkan dua pribadi berbeda yang akhirnya menyatu dalam satu irama yang sama.
Film Rangga & Cinta melakukan pemutaran perdana di Busan International Film Festival (BIFF) ke-30 pada 18 September 2025 dan menerima banyak pujian. Kritikus menilai film ini berhasil menggabungkan romansa klasik dengan pendekatan musikal modern. Selain itu, mereka memuji keberanian sineas dalam menjadikan musik sebagai medium utama alur cerita, bukan sekadar pelengkap adegan.
Nicholas Saputra, pemeran Rangga versi asli yang kini menjadi produser, menjelaskan bahwa ide musikal muncul dari keinginan untuk “menghidupkan kembali emosi lama dengan cara yang lebih hidup dan ekspresif.” Ia juga terlibat dalam pemilihan aktor serta pengawasan artistik agar film tetap memiliki kedalaman emosional khas Ada Apa Dengan Cinta, namun dengan gaya dan warna baru.
Dengan perpaduan drama, puisi, dan musik, film ini menawarkan pengalaman sinematik yang berbeda. Penonton tidak hanya menyaksikan kisah cinta yang tumbuh di antara dua remaja, tetapi juga mendengarnya melalui nada dan lirik yang menyentuh hati. Oleh karena itu, Rangga & Cinta (2025) membuktikan bahwa musik dapat menjadi bahasa universal yang mampu menghidupkan kembali kenangan lama sekaligus memperkenalkan kisah abadi ini kepada generasi baru.

Leave a Reply