Belakangan, media sosial diramaikan oleh video seorang ibu rumah tangga yang memperlihatkan kesehariannya mengelola uang Rp10.000 untuk kebutuhan sehari-hari. Dengan narasi “10 ribu di tangan istri yang tepat,” video tersebut mendapat jutaan penonton dan memicu perdebatan panjang di kolom komentar. Sebagian menganggap konten itu menginspirasi dan menunjukkan ketangguhan perempuan dalam menghadapi keterbatasan. Namun, tak sedikit pula yang menilai bahwa narasi ini menormalisasi ketimpangan dan memperkuat bayangan patriarki dalam kehidupan rumah tangga.
Pernyataan “istri yang tepat” seolah menempatkan beban ekonomi pada kemampuan perempuan dalam mengelola uang, bukan pada keadilan dalam pembagian peran dan tanggung jawab finansial. Padahal, di tengah kenaikan harga bahan pokok dan biaya hidup yang terus meningkat, Rp10.000 jelas bukan jumlah yang layak untuk mencukupi kebutuhan keluarga, bahkan untuk satu kali makan. Di sini terlihat bagaimana masyarakat kerap mengagungkan ketangguhan perempuan, tetapi lupa mempertanyakan mengapa sistem sosial dan ekonomi membuat mereka harus selalu “tangguh.”
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana media sosial sering menormalisasi ketimpangan. Di satu sisi, masyarakat memuji “istri yang pandai berhemat,” namun lupa bahwa kondisi itu lahir dari sistem yang tidak adil bagi perempuan. Narasi ini masih dipengaruhi pandangan patriarki masa lalu yang menempatkan perempuan di ranah domestik seperti “sumur, dapur, kasur.” Padahal, perempuan kini berperan luas dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik serta berhak hidup setara dan bermartabat.
Alih-alih terus meromantisasi kesederhanaan dan ketangguhan perempuan, masyarakat seharusnya mulai menggeser narasi ini menjadi refleksi kritis, mengapa perempuan masih harus berjuang “menyulap” uang sekecil itu untuk bertahan hidup? Dan kapan kita akan membicarakan pentingnya keadilan ekonomi, akses pekerjaan layak, serta relasi setara dalam rumah tangga? Karena sejatinya, istri yang tepat bukanlah mereka yang bisa bertahan dengan Rp10.000, melainkan yang memiliki hak untuk hidup layak dan bermartabat.

Leave a Reply