Dr. John Gottman, seorang psikolog asal Amerika, telah melakukan penelitian mengenai dinamika hubungan selama beberapa dekade. Ia mengidentifikasi empat pola komunikasi negatif sebagai faktor utama yang dapat memprediksi kegagalan dalam suatu hubungan, yang dikenal dengan istilah “Four Horsemen of the Apocalypse”.
Bentuk-bentuk Pola Komunikasi
- Kritik
Biasanya menyerang karakter pasangan ketimbang perilakunya. Misalnya, pernyataan seperti “Kamu selalu egois!” atau “Aku merasa sedih ketika kamu tidak pernah memikirkan perasaanku, karena aku merasa diabaikan!” menunjukkan penggunaan generalisasi seperti “selalu” dan “tidak pernah.” Fokus utama dari kritik ini adalah pada penilaian karakter, bukan pada perasaan pribadi. Sebagai alternatif, lebih baik jika kita mengungkapkan perasaan kita sendiri tanpa menyerang karakter pasangan.
- Penghinaan
Ditandai dengan sikap merendahkan atau menghina pasangan. Misalnya, ungkapan “Kamu tidak pernah benar dalam melakukan apa pun, jadi aku harus mengurus semuanya sendiri!” dapat menimbulkan rasa sakit. Sebagai alternatif, ungkapan yang lebih konstruktif seperti “Aku menghargai semua yang kamu lakukan. Akan sangat membantu jika kamu bisa membantuku dengan tugas ini, karena aku merasa kewalahan,” dapat mengurangi ketegangan. Rasa penghinaan sering muncul akibat frustrasi yang terakumulasi dan dapat merusak hubungan. Kunci untuk mengatasi hal ini adalah mengekspresikan kebutuhan dengan cara yang membangun, tanpa menyerang atau merendahkan pasangan.
- Defensif
Sikap ini muncul ketika seseorang menghindari tanggung jawab atau merasa perlu membela diri secara berlebihan. Misalnya, ketika seseorang berkata, “Bukan aku yang salah, kamu tu pelupa!” dibandingkan dengan mengakui kesalahan dan mengatakan, “Aku paham kenapa kamu kesal. Seharusnya aku bisa membantu. Next time aku akan memperbaikinya.” Sikap defensif sering kali digunakan untuk melindungi diri dari kritik, tetapi lebih baik untuk menerima sebagian dari masalah dan menunjukkan keterbukaan dalam memperbaiki keadaan.
- Silent Treatment
Hal ini ditandai dengan menarik diri secara emosional dan menutup komunikasi. Misalnya, mengabaikan pasangan dan hanya memberikan anggukan atau tidak merespons. Pernyataan seperti “Kayaknya kita perlu nenangin diri deh. Kalau sudah baik baru kita bahas” adalah contoh pendekatan yang lebih sehat. Silent treatment sering terjadi ketika seseorang merasa kewalahan secara emosional dan memilih untuk menutup diri. Penting untuk berbicara secara asertif dan meminta waktu untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan diskusi.
Nah, sobat MinSik, jika keempat pola ini sering muncul dalam hubungan kamu dan memicu berakhirnya suatu hubungan. Maka, perlu untuk memahami dan mengatasi pola-pola ini, dengan memperbaiki komunikasi, membangun keintiman, dan meningkatkan kualitas hubungan. Upaya ini lebih positif dan menjadi langkah penting menuju hubungan yang lebih sehat dan bertahan lama.
Penulis: Maya Maulida
Editor: Diah Ayu

Leave a Reply