Mengenali dan Menghindari Toxic Relationship: Kunci Menuju Hubungan yang Sehat
Bahaya nya Toxic Relationship, Pernahkah kamu mendengar istilah hubungan tidak sehat? dan apa bahaya nya Toxic Relationship?. Fenomena ini bisa terjadi dalam berbagai jenis hubungan, termasuk keluarga, persahabatan, dan romantis. Mari kita pelajari lebih lanjut tentang Toxic Relationship dan bagaimana menghadapinya.
Apa itu Toxic Relationship?
Toxic relationship merupakan suatu hubungan yang merugikan satu atau kedua belah pihak. Hal ini bisa terjadi di lingkungan keluarga, persahabatan, dan pasangan. Berada di dalam toxic relationship bisa menimbulkan gangguan pada kesehatan mental, emosional, bahkan fisik seseorang. Tekanan yang terus-menerus diterima bisa mengakibatkan stres yang berujung depresi hingga bunuh diri. Biasanya orang yang berada dalam toxic relationship sering tidak menyadari bahwa hubungan yang dijalaninya merupakan hubungan yang toxic atau tidak sehat. Sayangnya, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka berada dalam toxic relationship. Karena itu, penting untuk mengenali tanda-tandanya.
5 Ciri Utama Toxic Relationship
1. Kontrol yang Berlebihan
Adanya kontrol yang berlebihan dari salah satu pihak merupakan salah satu ciri utama adanya toxic relationship. Bentuk dari sifat terlalu mengontrol ini seperti menentukan apa saja yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan, siapa yang boleh ditemui dan tidak boleh ditemui, hingga keputusan-keputusan besar dalam hidup. Pada intinya segala hal yang berhubungan dengan kamu mereka merasa memiliki hak untuk menentukannya. Sehingga kamu kehilangan kendali atas hidupmu sendiri.
2. Kekerasan Verbal dan Non-verbal
Ciri toxic relationship yang selanjutnya adalah kasar secara verbal (perkataan) atau non-verbal (perbuatan). Suatu hubungan dapat dikatakan tidak sehat jika individu didalamnya diperlakukan secara kasar baik dengan perkataan maupun perbuatan. Kasar melalui perkataan dapat berupa penghinaan, ancaman, dan bentakan. Lalu kasar secara perbuatan seperti memukul, menendang, mencekik, dan lain sebagainya. Tentu hal seperti ini tidak bisa diwajarkan dalam suatu hubungan.
3. Kebohongan yang Berulang
Jika dalam suatu hubungan kamu sering dibohongi, maka kamu sedang berada di toxic relationship. Seperti yang kita ketahui, komunikasi merupakan kunci dari hubungan yang sehat dan harmonis, oleh karena itu penting sekali adanya keterbukaan satu sama lain agar setiap individu didalamnya dapat saling memahami dan merasa dihargai.
4. Kurangnya Dukungan
Dalam suatu hubungan kedua belah pihak harus saling mendukung untuk mencapai tujuan atau cita-cita masing-masing. Jika dalam hubungan kamu tidak mendapat dukungan atau bahkan impianmu seringkali diremehkan maka kamu sedang berada di toxic relationship. Hal tersebut juga bisa menghambat proses pengembangan diri bahkan mengurangi rasa percaya diri.
5. Kecurigaan Berlebihan
Salah satu kunci dari hubungan yang sehat ialah adanya kepercayaan terhadap satu sama lain. Jika dalam hubungan kamu selalu dicurigai, dicemburui berlebihan, sering dianggap berbohong, maka itu sudah termasuk toxic relationship, karena akan menimbulkan konflik yang terus menerus dan tidak adanya ketenangan dalam hubungan yang dijalani. Situasi ini menciptakan konflik berkepanjangan dan menghilangkan ketenangan dalam hubungan.
Langkah Menuju Hubungan yang Sehat
Jika kamu mengenali tanda-tanda di atas dalam hubungan kamu, jangan khawatir. Berikut langkah-langkah yang bisa kamu ambil:
- Kenali dan akui situasi kamu
- Mulailah dengan mencintai diri sendiri
- Sadari bahwa kamu berhak diperlakukan dengan baik
- Cari dukungan dari teman, keluarga, atau profesional
- Pertimbangkan untuk mengakhiri hubungan jika diperlukan
Ingat, setiap orang berhak berada dalam hubungan yang sehat dan membahagiakan. Jangan ragu untuk mengambil langkah demi kebaikan diri sendiri.
Mengalami Toxic relationsip, lebih baik keluar atau teruskan?
Penulis: Haura Al-Insiyyah
Editor: Diah Ayu
Referensi: Saskia, N.N, Idris, F.P, & Sumiaty. (2023). Perilaku Toxic Relationship Terhadap Kehesatan Remaja Di Kota Makassar. Window of Public Health Journal, Vol.4 No. 3: 525-538

Leave a Reply