Rabu, 04/10/23 – 11.22 WIB
Saya berangkat menyaksikan Air Mata di Ujung Sajadah hanya karena satu alasan: penasaran.
Film ini bercerita tentang perjuangan seorang ibu bernama Aqilla yang diperankan Titi Kamal yang terpisah dari anak-anaknya selama tujuh tahun. Aqilla hidup dengan keyakinan bahwa anaknya meninggal saat lahir. Namun takdir membawanya kembali ke Indonesia dan mengungkap sebuah kebenaran yang mengejutkannya. Aqilla menikah pertama kali secara tidak resmi dan melahirkan seorang anak. Ibunya Halimah (Tutie Kirana) yang tidak merestui pernikahan tersebut berbohong kepada Aqilla bahwa anaknya telah meninggal. Halimah kemudian menikahkan keponakannya dengan pasangan yang sudah lama menikah namun tidak memiliki anak, Arif (Fedi Nuril) dan Yumna (Citra Kirana). Anak itu diberi nama Baskara yang artinya “sang pemberi cahaya terang”. Saat Halimah jatuh sakit dan kembali ke Indonesia, ia mengungkapkan kepada Aqilla bahwa anaknya masih hidup. Aqilla yang telah berpisah dengan anaknya selama tujuh tahun, langsung berusaha mendapatkan anaknya kembali. Namun tantangan besar ia hadapi karena Baskara seumur hidupnya tinggal bersama Arif dan Yumna.
Kisah ini menggambarkan pergulatan moral dan emosional yang mendalam antara hak ibu kandung dan hak ibu angkat, serta konflik yang muncul sebagai wujud cinta dan kedekatan dalam keluarga yang merawat Baskara sejak lahir.
Dalam konteks Islam, film ini mengangkat banyak pertanyaan moral dan etika yang signifikan. Pertama, penting untuk diingat bahwa Islam menekankan pentingnya cinta, pengorbanan dan tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya. Sebagai ibu kandung, Aqilla berhak mengambil kembali dan mengasuh anaknya. Namun Yumna yang merawat Baskara seperti anaknya sendiri juga berhak menyayangi dan merawatnya.
Ini mengingatkan kita pada nilai-nilai seperti keadilan, belas kasihan dan hak milik dalam Islam. Konflik dalam film ini merupakan kesempatan untuk memahami bahwa kebaikan dan cinta tidak harus bertentangan, namun bisa menciptakan lingkungan yang bahagia.
Dalam Islam, ada beberapa poin penting yang perlu dipahami tentang konflik jenis ini: pertama, cinta dan pengorbanan. Kedua, keadilan. Ketiga, kepemilikan dan hak. Keempat, dialog dan kompromi. Kelima, pertimbangan etis
Film “Air Mata di Ujung Sajadah” menyuguhkan kisah emosional penuh nilai moral dalam konteks Islam. Itu mengajarkan kita pentingnya cinta, kasih sayang dan pengorbanan dalam sebuah keluarga. Meski konfliknya rumit, pesan utamanya adalah mencari solusi yang adil dan baik bagi semua pihak.
Penulis : Muhammad Zaky Permana
Editor : Afnidiya Chania Putri

Leave a Reply