Dakwah Era Milenial Penuh Problematik?

Dakwah secara bahasa artinya memanggil, mengundang, ajakan, imbauan dan hidangan. Dakwah juga bisa diartikan sebagai seruan atau ajakan. Agama Islam disebarkan melalui jalur dakwah. Untuk proses berdakwah pada media terutama sosial media, seorang ulama harus aktif pada salah satu media sosial misalnya intagram, yang biasanya seorang dai bisa dikenal melalui suatu acara dakwah kini dengan media bisa lebih dikenal apalagi ulama yang memang bisa mengajak masyarakat terutama anak muda ini bisa menjadi peluang untuk menambah engangement dalam media.

Saat ini dakwah memiliki tantangan, apalagi di era digital dan tantangan dakwah beraneka ragam bentuknya. Bentuk klasik misalnya, berupa penolakan, cibiran, dan lain-lain. Seorang da’i harus mampu mengatasi rintangan tersebut dengan baik jika niatnya sudah kuat sebagai pejuang. Jalan dakwah bukan rentang yang pendek dan bebas hambatan, jalan dakwah penuh dengan kesulitan. Kondisi ini perlu diketahui dan dikenali oleh setiap aktivitas dakwah, agar para juru dakwah bersiap diri menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di perjalanan sehingga revolusi informasi dan komunikasi di jalan dakwah bisa diatasi dengan baik.

Lantas apa yang perlu kita lakukan agar dakwah khususnya di era digital ini bisa diterima di kalangan masyarakat? Kita bisa mendukungnya dengan memposting di media sosial atau sharring mengenai dakwah, sehingga masyarakat bisa open minded dan tidak berpikir bahwa dakwah itu “kuno” atau semacamnya. Dengan melakukan hal tersebut, kita ikut serta untuk mendukung dakwah agar terus berjalan dan. Selain yang telah dijabarkan di atas, problematik dakwah yang sering terjadi adalah beredarnya video hasil provokasi seseorang yang sengaja menjatuhkan atau menjelek-jelekan dakwah sehingga dakwah dinilai tidak benar dan membuat sebagian orang awam takut dengan adanya dakwah ini. Semoga kita dijauhkan dengan orang-orang yang demikian.

Penulis: Melisya Febi (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Penyunting: Hilya Maylaffayza (Tim Redaksi Komuniasik)


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *