Film merupakan media komunikasi yang menyajikan sebuah cerita dengan tampilan audio visual dengan tujuan menghibur bahkan mempengaruhi penontonnya. Film memiliki banyak genre yang biasa dinikmati oleh para penonton, salah satu genre film yang sedang ramai diminati masyarakat ialah horor. Film horor merupakan genre yang menampilkan kisah seram
dan seringkali menakuti penonton. Tidak hanya menakuti, tetapi juga menggugah berbagai emosi dan memberikan pengalaman psikologis yang mendalam. Selain itu, genre horor juga selalu menampilkan elemen-elemen menarik, seperti cirikhas pada masing-masing karakter, lingkungan, jumpscare (kejutan menyeramkan) dan plot twist tak terduga yang membuat genre
horor berhasil menciptakan ketegangan dan rasa penasaran para penontonnya.
Dilihat dari sejarahnya, film Horor mulai berkembang di Indonesia sejak hadirnya film “Doea Siloeman Oeler Poetie en Item” pada tahun 1934 dan film “Tengkorak Idoep” pada tahun 1941. Perkembangan kualitas cerita dan elemen film horor di Indonesia dari tahun ke tahun selalu berubah. Pada era tahun 70-80an horor Indonesia selalu mengandalkan adegan sadis dan gore (banyak darah) dilengkapi dengan suasana mistik. Sedangkan film horor era tahun 2000-an menampilkan suasana mencekam, suasana sunyi gedung-gedung di perkotaan modern dan lokasi yang mengandung mitos urban. Saat ini, horor Indonesia seringkali
memproduksi film berdasarkan kisah nyata dan kasus kejahatan. Salah satu contohnya seperti film “Vina sebelum 7 hari”. Kasus Vina kembali ramai dibicarakan karena belum terselesaikan dan pelaku utama pebunuhan belum tertangkap. Film ini juga memunculkan kembali anggota geng motor sadis yang biasa dibicarakan karena viral culture di Indonesia. Viral culture ialah terjadinya sebuah peristiwa atau kasus, namun pemerintah akan cenderung cepat bertindak jika kasusnya viral terlebih dahulu di media sosial. Sebenarnya, sejak dulu sudah banyak film yang
diangkat dari kasus kejahatan. Namun, film-film tersebut dirilis ketika penggunaan media sosial tidak seaktifsekarang. Antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap cerita horor di media sosial mendorong rumah produksi untuk menjadikannya film. Dapat dipastikan bahwa viral culture akan menjadi kontributor yang signifikan untuk memproduksi film di Indonesia. Selain itu, dengan adanya perkembangan teknologi modern, penonton tidak hanya dapat menikmati film di bioskop dan layar kaca saja, tetapi juga dapat menikmatinya di media sosial dan platform digital seperti Netflix, Disney+, Iflix, Viu dan lain-lainnya.
Film horor terbukti menjadi genre populer dan terfavorit di kalangan masyarakat Indonesia. Alur ceritanya yang sederhana dan relate dengan kehidupan sehari-hari, merupakan
salah satu alasan masyarakat menyukai genre ini. Selain itu, beberapa alasan lainnya yang membuat masyarakat memiliki minat yang tinggi terhadap film horor diantaranya:
1. Banyaknya budaya, mitos dan legenda mistis.
Indonesia terkenal memiliki banyak budaya, mitos dan legenda mistis, sehingga banyak sekali dijadikan bahan produksi ke dalam film horror. Kisah-kisah mengenai makhluk gaib, hantu, dan peristiwa supranatural lainnya telah menjadi bagian yang tidak bisa terlepaskan dari kehidupan masyarakat di Indonesia. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap budaya mistis sangat tinggi, terutama di wilayah pedesaan.
2. Banyaknya lokasi sakral dan angker.
Film horor sering kali menggunakan lokasi lokasi angker yang ikonik dan terkenal di Indonesia, seperti rumah tua, kuburan kuno, dan hutan. Penggunaan lokasi-lokasi mistis yang akrab dengan penonton dapat meningkatkan koneksi, penasaran dan pengalaman menonton menjadi lebih mencekam.
3. Memberikan Sensasi Ketegangan dan Adrenalin.
Menonton film horor tentunya dapat menjadi bentuk hiburan atau pelarian dari keseharian yang monoton. Adanya sajian suasana mencekam dan jumpscare, memberikan sensasi ketegangan dan adrenalin saat menonton film horor. Ini tentunya dapat memberikan suasana dan pengalaman berbeda serta dapat menghibur bagi penonton yang ingin mencari sensasi baru.
4. Mempengaruhi Psikologis dan Emosional.
Film horor pastinya selalu menghadirkan suasana mencekam yang mampu mempengaruhi psikologis, emosional dan ketakutan mendalam. Film horor selalu menggunakan teknik-teknik cinematic yang berbeda dari genre lainnya, yaitu dengan pencahayaan yang gelap, tata musik menegangkan dan suara-suara menyeramkan. Hal ini dapat memberikan kesan berbeda bagi para penonton.
5. Membentuk Komunitas dan Kegiatan Sosial.
Menonton film horror sering kali dilakukan dalam kelompok, baik di bioskop maupun di rumah. Aktivitas ini menjadi momen berkumpul yang seru dan penuh tawa, terutama ketika penonton saling berteriak atau bereaksi terhadap jumpscare. Komunitas penggemar film horror juga semakin berkembang, dengan banyak forum online dan acara nonton bareng yang mempertemukan orang-orang dengan minat yang sama.
Beberapa alasan inilah yang membuat minat masyarakat Indonesia terhadap film horror terbilang tinggi. Perbedaan film horor Indonesia dengan luar negeri, dilihat pada topik atau
materi mitosnya. Apa yang ditakutkan dan apa yang dicemaskan masyarakat akan tercermin dalam film horror yang dibuat. Film horror Hollywood biasanya banyak terpengaruh oleh konsep horor Eropa, yang seringkali ditemukan dalam sejarah mitologi ataupun biblical (berhubungan dengan alkitab/unsur keagamaan). Sedangkan wilayah Asia seperti Indonesia, Jepang, China dan lain-lainnya biasanya ramai dengan kisah urban legend. Indonesia memiliki urban legend yang banyak diyakini masyarakatnya, contohnya seperti pocong, kuntilanak, tuyul, kuyang, dan lain-lainnya. Hantu-hantu ini tentunya tidak ditemukan di tempat lain dan hanya ada di Indonesia. Inilah yang seringkali menjadi bahan produksi film horror Indonesia yang tentunya dipercaya dan ditakuti masyarakat.
Bagi banyak orang, film horror bukan hanya sekedar hiburan, tetapi juga dinilai sebagai fantasi serta cara untuk menjelajahi ketakutan dan merasakan adrenalin dalam suasana yang aman. Seiring berjalannya waktu, bisa dipastikan bahwa popularitas film horror akan terus meningkat di kalangan masyarakat Indonesia.
Penulis : Dinaya Citra Solihah
Editor : Arif Rahmatulhakim

Leave a Reply