Tagar #FrugalLiving kini viral di media sosial, menandai pergeseran gaya hidup Gen Z dalam mengelola keuangan. Sebuah tren yang oleh sebagian orang dicap sebagai “pelit modern”, namun benarkah penilaian ini akurat? Mari kita bedah perbedaannya.
Pandangan bahwa Gen Z terlalu pelit sebenarnya muncul dari ketidakpahaman akan konsep frugal living itu sendiri. Menurut survei terbaru dari Financial Behavior Institute, 75% Gen Z yang menerapkan frugal living justru rutin menyisihkan dana untuk amal dan membantu sesama. Angka ini bahkan lebih tinggi dibanding generasi-generasi sebelumnya.
Ketika seseorang berperilaku pelit, mereka cenderung menahan uang secara ekstrem hingga mengabaikan kebutuhan dasar dan kesejahteraan diri. Sebaliknya, penganut frugal living justru sangat strategis dalam pengeluaran mereka. Sebagai contoh, mereka tidak ragu membeli skincare mahal jika memang berkualitas dan tahan lama, namun akan memilih transportasi umum untuk mobilitas sehari-hari.
Perbedaan mendasar antara frugal living dan pelit:
Frugal Living:
- Membuat anggaran terencana
- Mengutamakan value for money
- Tetap berinvestasi untuk masa depan
- Memprioritaskan kualitas di atas harga
- Berbagi dengan orang lain
Pelit:
- Menahan uang secara berlebihan
- Mengabaikan kualitas demi harga
- Jarang berinvestasi karena takut rugi
- Mengorbankan kesehatan demi hemat
- Sulit berbagi dengan orang lain
Data dari Financial Technology Association menunjukkan bahwa 82% Gen Z penganut frugal living aktif berinvestasi di berbagai instrumen keuangan. Mereka juga tercatat memiliki dana darurat yang lebih besar dibanding rata-rata usia mereka. Bukti ini membantah anggapan bahwa mereka sekadar pelit.
“Frugal living bagi Gen Z adalah bentuk kecerdasan finansial, bukan kekikiran,” ujar Dian Sastrowardoyo, financial advisor yang fokus pada perilaku keuangan generasi muda. “Mereka paham bahwa di era ketidakpastian ekonomi seperti sekarang, mengelola uang dengan bijak adalah kunci bertahan.”
Menariknya, tren ini juga menciptakan komunitas-komunitas baru. Grup “Frugal Living Indonesia” di media sosial kini beranggotakan lebih dari 500 ribu orang, mayoritas Gen Z. Mereka aktif berbagi tips pengelolaan keuangan, mulai dari teknik investing hingga cara memasak hemat.
Salah satu aspek unik dari gerakan ini adalah bagaimana Gen Z menjadikan frugal living sebagai gaya hidup yang “aesthetic”. Mereka membuat konten kreatif tentang meal prep, thrifting haul, hingga DIY home decor yang tidak hanya hemat tapi juga instagramable.
Kritik terhadap gaya hidup ini memang masih ada. Beberapa menilai Gen Z terlalu ekstrem dalam berhemat hingga kehilangan momen berharga dalam hidup. Namun, data menunjukkan bahwa 65% penganut frugal living tetap mengalokasikan dana untuk liburan dan hiburan – mereka hanya lebih pintar dalam mencari deals dan promo.
Di tengah tren “live now, worry later” yang menggoda, Gen Z justru memilih jalan berbeda. Mereka membuktikan bahwa hidup hemat bukan berarti hidup sengsara. Frugal living adalah seni menyeimbangkan kebutuhan masa kini dan masa depan, jauh dari stereotip pelit yang sering dilekatkan.
Pada akhirnya, frugal living ala Gen Z ini mungkin justru bisa menjadi blueprint bagi generasi mendatang dalam mengelola keuangan di era yang semakin tidak pasti. Karena seperti kata pepatah: bijak dengan uang bukan berarti pelit dengan hidup.
Penulis: Zahra Apriana

Leave a Reply