Akhir-akhir ini media sosial dihebohkan dengan kasus tindakan asusila yang dilakukan oleh seorang guru di Sekolah Menengah Atas kepada seorang siswi. Pasalnya siswi tersebut tentunya masih di bawah umur sedangkan guru tersebut merupakan orang dewasa, hal tersebut tentunya menjadi perbincangan publik khususnya pada media sosial. Netizen berspekulasi bahwa guru tersebut telah melakukan child grooming kepada siswi tersebut.
Di Indonesia sendiri child grooming merupakan salah satu perbincangan yang masih cukup tabu. Masih banyak orang yang kurang mengerti, bahkan cenderung belum paham mengenai edukasi dan bahaya dari child grooming.
Apa Itu Child Grooming?
Child grooming merupakan sebuah perbuatan yang pelakunya ialah orang dewasa yang dilakukan untuk membentuk kepercayaan, hubungan, dan juga kontrol pada seorang anak atau juga remaja di bawah umur dengan tujuan untuk memanipulasi dan mengeksploitasi anak di bawah umur secara emosional, fisik, hingga seksual. Pada perihal ini, si pelaku child grooming juga bisa menganiaya ataupun mengisolasi korbannya.
Child grooming dapat terjadi dalam situasi apapun, termasuk lingkungan yang dianggap oleh orang-orang sekitar. Contoh dari beberapa situasi yang kerap dimanfaatkan oleh pelaku child grooming di antaranya ialah:
- Saat bertemu langsung antara pelaku dan juga korban.
- Melalui internet atau secara virtual.
- Pada sebuah organisasi, seperti tempat kerja dan sekolah.
- Pada media sosial.
- Pada ruang publik (dapat disebut juga sebagai street grooming).
Orang-orang sering kali berpikir bahwasannya pelaku child grooming atau yang biasa dikenal dengan sebutan groomer merupakan orang asing, namun tidak menutup kemungkinan juga bahwa groomer bisa juga berasal dari orang yang dikenal atau orang terdekat korban, seperti teman, keluarga, kerabat, rekan kerja, dan sebagainya. Terdapat beberapa cara yang dilakukan groomer untuk mendapatkan kepercayaan korban, di antaranya:
- Memberi pengertian atau nasihat kepada korban.
- Memberikan hadiah pada korban.
- Memberi perhatian pada korban.
- Memakai posisi atau reputasi profesional miliknya demi mendapatkan citra yang baik di depan korban maupun keluarga korban.
- Mengajak korban untuk jalan-jalan, berpergian, ataupun liburan.
Ketika groomer sudah mendapat kepercayaan dari korban ataupun keluarga korban, groomer biasanya secara perlahan akan melakukan eksploitasi hubungannya dengan cara mengisolasi korban dari keluarga serta teman-temannya, akibatnya korban akhirnya akan tergantung kepada groomer.
Child grooming kerap dikait-kaitkan dengan pedofilia, yang di mana kedua hal tersebut dikenal dengan tanda pelecehan seksual pada anak, namun hal tersebut merupakan dua hal berbeda. Pedofilia sendiri merupakan suatu kondisi seseorang yang mempunyai ketertarikan seksual kepada anak-anak, sedangkan child grooming adalah suatu tindakan yang memfasilitaskan pelecehan seksual kepada anak.
Dampak dan Bahaya Child Grooming
Dampak dari child grooming dapat mempengaruhi kesehatan mental anak, hingga dapat mempengaruhi kesehatan mental anak pada kurun waktu yang panjang. Dampak yang ditimbulkan juga bermacam-macam, tergantung pada kondisi korban secara menyeluruh. Terdapat beberapa kemungkinan pada anak atau remaja yang menjadi korban child grooming sebagai dampaknya. Pada awal-awal, korban kemungkin akan memiliki rasa untuk kesulitan tidur, cemas, maupun kesulitan dalam berkonsentrasi ataupun dalam melakukan pekerjaan tugas sekolah. Selain itu, lama-lama kemungkinan mereka juga dapat menarik diri, tidak komunikatif, serta mudah marah ataupun kesal. Di samping itu, terdapat beberapa dampak dan bahaya dari child grooming yang perlu diperhatikan, di antaranya:
- Adanya trauma emosional yang dialami hingga dapat menyebabkan risiko adanya masalah kesehatan pada mental, seperti Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), depresi, gangguan kecemasan, dan sebagainya.
- Sulit untuk mempercayai orang lain di masa depan.
- Sulit untuk menjalin hubungan yang sehat dengan orang lain.
- Mengalami gangguan perkembangan emosional dan sosial, seperti memperlihatkan tindakan regresif, hilangnya peminatan pada aktivitas yang dulu disukai, ataupun mengalami gangguan belajar.
- Menimbulkan risiko penyelewengan NAPZA saat sudah beranjak dewasa.
- Mengalami gangguan makan dan tidur.
- Sulit untuk berkonsentrasi di sekolah sehingga dapat menyebabkan penurunan prestasi.
- Mempunyai kecondongan dalam melakukan isolasi sosial hingga dapat menyebabkan hasrat untuk bunuh diri.
Penjelasan-penjelasan tersebut merupakan penjelasan mengenai child grooming serta dampak dan bahayanya yang terjadi pada anak. Child grooming ialah suatu tindakan seseorang yang mencoba untuk membangun hubungan untuk saling percaya dengan seorang anak yang di mana hal tersebut dilakukan supaya nantinya dapat melakukan tindakan pelecehan seksual pada anak.
Apabila kita menemukan tindakan child grooming, perlu untuk kita melakukan pengawasan terhadap korban, melindungi korban, serta merangkul korban, karena menyalahkan korban merupakan sebuah tindakan yang salah dan yang perlu disalahkan dari hal tersebut adalah si pelaku child grooming.
Penulis : Asna Ayu Naraya
Editor : Syifa Salsabila

Leave a Reply