Sejak kecil, kita sering diajarkan bahwa hidup adalah perlombaan: siapa yang lebih cepat, lebih pintar, dan lebih sukses. Di sekolah, anak-anak dibandingkan lewat ranking; di dunia kerja, kita berlomba mengejar jabatan; dan di media sosial, kita terjebak dalam adu pencapaian siapa yang lebih keren, lebih mapan, atau lebih bahagia. Tanpa sadar, kita hidup dalam pola pikir kompetisi yang membuat banyak orang merasa tertinggal. Padahal, seperti yang dikatakan oleh clevergirlfinance, membandingkan pencapaian diri dengan orang lain sama saja dengan “bunuh diri” secara perlahan, karena kita tidak pernah tahu garis start orang lain dimulai dari mana.
Kenyataannya, setiap orang punya garis start dan finish yang berbeda. Ada yang lahir dari keluarga berkecukupan, ada pula yang harus berjuang dari nol. Ada yang menemukan passion sejak muda, ada yang butuh waktu panjang untuk mengenali potensinya. Hal ini bukan soal siapa yang lebih unggul, tapi tentang perjalanan unik yang dijalani masing-masing individu. Seperti dikatakan dalam sumber pertama, hidup bukanlah lomba lari di stadion dengan garis start dan finish yang sama, melainkan perjalanan mendaki gunung di mana setiap orang menempuh jalur dan kecepatan berbeda.
Ketika kita terus membandingkan diri dengan orang lain, dampaknya bisa sangat serius: muncul rasa iri, cemas, dan kehilangan rasa syukur. Bahkan, kita bisa kehilangan potensi diri karena sibuk meniru jalur kesuksesan orang lain. Padahal, setiap orang memiliki kemampuan, peluang, dan prioritas yang berbeda. Seperti dalam sumber kedua, pilihan hidup seseorang selalu datang dengan risiko dan pengorbanan yang tidak selalu terlihat.
Daripada berlomba, alangkah baiknya kita belajar menghargai perjalanan diri sendiri. Bandingkan diri kita hari ini dengan diri kita kemarin apakah kita tumbuh, belajar, dan menjadi lebih bijak? Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang sampai duluan, melainkan tentang bagaimana kita menjalani perjalanan itu dengan makna, syukur, dan kedamaian.
Jadi, berhentilah membandingkan langkahmu dengan orang lain. Nikmati prosesmu sendiri. Ingat, setiap orang punya garis start dan finish yang berbeda dan itu tidak apa-apa. Yang penting bukan seberapa cepat kamu sampai, tapi seberapa tulus kamu menikmati perjalanan menuju versi terbaik dirimu sendiri.
Source:
https://www.merahputih.com/post/read/stop-balapan-dengan-orang-lain
https://community.mekari.com/forums/topic/kenapa-kita-sering-lupa-bahwa-hidup-itu-bukan-kompetisi
Leave a Reply