Meme Politik, Gaya Bahasa baru dalam berekspresi

Meme sudah menjadi konten yang akrab bagi anak muda. Bentuknya bisa berupa potongan gambar, video, atau teks yang tersebar luas di internet. Dengan menyelipkan humor, meme membuat siapa pun yang melihatnya merasa terhibur. Seiring waktu, meme juga menjadi media bagi generasi muda untuk menyampaikan pendapat.

Kamu mungkin pernah melihat meme lucu tentang pejabat atau kebijakan pemerintah. Setelah melihatnya, kamu ikut tertawa atau bahkan berpikir, “Lah, bener juga ya?” Fenomena ini menunjukkan bahwa anak muda kini terlibat dalam politik, bukan hanya lewat perdebatan serius, tetapi juga melalui meme politik.

Meme Politik sebagai Ruang Kritik Kreatif

Meme politik tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi juga menjadi bentuk kritik yang halus dan mudah diterima. Di Instagram misalnya, akun @kementrianbakuhantam ramai diperbincangkan pada Oktober lalu karena unggahan satirnya terhadap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia..

Akun itu menampilkan desain menyerupai poster kajian online berjudul “Hukum Mencampur Air Zam-Zam dengan Etanol.” Dalam poster tersebut, sosok Bahlil digambarkan membawa botol bertuliskan Gasoline dan Ethanol, lengkap dengan kalung tasbih dan gaya khas ustaz. Nama pembicaranya pun dibuat satir “Ustadz Bahlil Al Golkariyah, Pimpinan Ponpes Al-Kohol.” Visual tersebut sengaja dibuat untuk menyindir kebijakan etanol yang ramai dibicarakan pada Oktober lalu. 

Unggahan ini kemudian menimbulkan banyak reaksi. Ada yang menertawakan, ada yang setuju, dan ada yang mempertanyakan kebijakan tersebut. Reaksi beragam ini membuktikan kalau meme bukan cuma hiburan, tapi juga bisa jadi ruang berpendapat yang efektif di era digital.
Contoh lainnya muncul pada 6 Oktober 2025, ketika akun yang sama mengunggah meme satir terkait kasus nikel di Raja Ampat. Meme tersebut diberi judul “Keutamaan Mengeruk Tambang.” Format visualnya mirip poster kajian online, sehingga kritiknya terasa tajam namun tetap mudah dipahami.

Meme ini jadi contoh gimana anak muda sekarang menyampaikan pendapatnya, lewat humor tajam, visual kreatif, dan bahasa yang mudah dipahami. Mereka gak perlu mengeluarkan energi di forum debat, cukup bikin desain unik yang bisa viral, bikin orang tertawa.

Peran Meme dalam Politik Digital

Meme politik tidak hanya mengenai kebijakan pemerintah saja, tetapi bisa juga terhadap tokoh publik, maupun fenomena politik yang ramai diperbincangkan. Politik yang dulunya terasa rumit dipahami, kini bisa mudah dipahami dan dikomentari dengan reaksi yang beragam.

Banyak akun khusus meme politik kini berkembang di berbagai platform. Misalnya @pemiluland di Instagram dan YouTube, @PolJokesID di X, dan @pinterpolitik di TikTok. Setiap akun memiliki gaya dan karakteristik masing-masing.

Selain itu, generasi muda tumbuh dalam budaya digital yang serba cepat. Mereka lebih suka menyampaikan opini melalui gambar lucu yang mudah dibagikan, daripada paragraf panjang yang terasa berat. Para kreator meme mungkin tidak sadar bahwa mereka sedang melakukan edukasi politik. Namun, humor yang mereka gunakan mampu mengajak banyak orang memahami isu yang sedang terjadi.

Meme juga menjadi bahasa baru yang menghubungkan kreativitas dengan kesadaran politik. Setiap meme yang dibagikan, dikomentari, atau diunggah ulang adalah bentuk partisipasi publik. Misalnya, unggahan @kementrianbakuhantam pada 14 Oktober lalu dibagikan ulang hingga mencapai 26 ribu pengguna. Ramainya reaksi bahkan membuat akun tersebut menerima somasi.

Dampak dan Pentingnya Literasi Digital

Sayangnya, meme politik tidak selalu berdampak positif. Sebagian meme hanya bertujuan menghibur, tetapi ada juga yang menyerang pribadi tanpa dasar. Mengutip Chris Tenove dalam The Meme-ification of Politics: Politicians and Their ‘Lit’ Memes (2019), meme politik memiliki dua karakteristik utama. Pertama, meme yang bersifat candaan. Kedua, meme yang memunculkan reaksi emosional, mulai dari humor hingga ujaran kebencian.

Karena itu, literasi digital menjadi sangat penting. Kita perlu memahami konteks setiap unggahan agar mampu membedakan mana meme yang sekadar humor, mana yang mengandung kritik, dan mana yang termasuk ujaran kebencian. Meme yang baik adalah meme yang mengajak masyarakat berpikir, bukan yang memecah belah atau menebar kebencian.

Pada akhirnya, meme politik menjadi bentuk baru partisipasi digital yang ringan tetapi tetap memiliki pengaruh. Anak muda yang membuat meme tidak hanya sedang bercanda, tetapi juga sedang membangun cara baru untuk menyampaikan pendapat secara kreatif.

By Rahmadina Al Fathiyah


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *