Ketika Ambisi Gen Z Justru Jadi Sumber Burnout

Keinginan untuk mengejar hidup yang ideal kini sering berubah menjadi tekanan yang terus menumpuk. Dorongan untuk selalu produktif sering terbungkus rapi dalam kata “berproses,” seolah ambisi menjadi syarat wajib menuju masa depan ideal. Dalam situasi seperti ini, ambisi yang semula sehat perlahan bisa berubah menjadi beban yang tidak disadari.

Beberapa riset menunjukkan bahwa burnout menjadi fenomena yang paling sering dialami pekerja muda, terutama mereka yang baru masuk dunia kerja. Menurut studi Burnout Among Generation Z: Risk Factors and Coping Strategies mengungkapkan bahwa tekanan sosial, tuntutan kerja, dan ekspektasi pribadi berdampak besar terhadap kelelahan emosional. Hal ini diperkuat oleh jurnal berjudul Pengaruh Work-Life Balance dan Burnout terhadap Kinerja Karyawan Gen Z yang menemukan bahwa minimnya keseimbangan hidup membuat generasi muda rentan kehilangan motivasi dan stabilitas psikologis.

Psikolog Mark Travers dalam Forbes menyebutkan, bahwa Gen Z cepat mengalami burnout karena beberapa faktor utama. Pertama, rendahnya kepuasan kerja sekaligus tingginya ekspektasi di tempat kerja membuat tekanan mental meningkat. Kedua, sulitnya menyeimbangkan kehidupan pribadi dan pekerjaan, serta ketidakjelasan peran di tempat kerja memperparah stres. Terakhir, adanya perbandingan sosial yang konstan membuat mereka terus merasa tidak cukup dan kelelahan secara emosional.

Di beberapa situasi, burnout bukan hanya muncul dari tuntutan pekerjaan, tapi juga dari standar personal yang semakin tinggi. Sebagian dari mereka merasa bersalah ketika mengambil jeda, seolah istirahat identik dengan kemunduran. Ambisi yang terus mendorong mereka untuk selalu maksimal membuat batas antara pencapaian dan nilai diri semakin kabur, sehingga risiko burnout semakin tinggi.

Memahami burnout sebagai fenomena kompleks membuka perspektif bahwa ambisi bukanlah musuh, melainkan sesuatu perlu dikelola secara bijak. Menjaga ritme kerja, mengenali batas kemampuan diri, dan menyediakan waktu istirahat yang cukup dapat menjadi strategi efektif untuk mencegah kelelahan emosional. Langkah-langkah sederhana ini sekaligus mendorong kesadaran akan pentingnya keseimbangan antara tuntutan profesional dan kesehatan mental.

By Citra Andhini


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *