From FYP to Real Life: Tren TikTok yang Bikin Hidup Kita Berubah

Dalam beberapa tahun terakhir, TikTok tidak lagi sekadar aplikasi hiburan. Platform ini berubah menjadi “mesin pembentuk budaya” yang sangat kuat, terutama di kalangan anak muda Indonesia. Berbagai tren bermunculan, mulai dari gaya berpakaian, cara bicara, hingga preferensi kuliner dan tempat liburan. Semua itu bisa muncul hanya dari satu video berdurasi 15 detik.

Menurut Kompas (2021) TikTok menjadi aplikasi favorit dengan lebih dari 56 juta unduhan sepanjang Februari 2021. Indonesia bahkan menjadi negara pengunduh terbesar ketiga.

Chusnul Rofiah & Rica Sanpuspita Rahayu juga menjelaskan bahwa TikTok sudah digunakan oleh semua kalangan, tidak hanya anak muda, tetapi juga generasi yang lebih tua.

Budaya Viral dan Tren yang Bergerak Cepat

Fenomena ini memperlihatkan bahwa budaya pop bukan lagi datang dari televisi atau majalah seperti era-200an, tapi dari algoritma TikTok yang bisa mengubah apa pun jadi tren nasional dalam hitungan jam. Contoh paling terkenal adalah “citayam fashion week” dimana trend tersebut beramula dari unggahan TikTok hingga menyebar ke seluruh media massa.

Setiap hari, muncul tren baru di TikTok. Mulai dari outfit ala Korea, makanan viral di Blok M, hingga tempat nongkrong estetik. Semua itu cepat menyebar dan mendorong banyak anak muda untuk ikut tren agar tetap relevan.

Tekanan Sosial dan Pola Knsumtif Gen Z

Namun, di balik maraknya itu semua, muncul tekanan sosial baru, dimana orang takut akan ketinggalan tren atau biasa disebut fear of missing (FOMO). Banyak remaja yang akhirnya merasa harus mengikuti tren yang ada, meskipun belum tentu cocok dengan diri mereka.

Selain itu, TikTok juga membentuk pola pikir konsumtif, yang dimana seseorang membeli sesuatu bukan karena kebutuhan, tapi karena keinginan atau demi gaya hidup dan tren. Semua dikemas dengan cara menghibur, sehingga tanpa sadar, banyak orang membeli bukn karena kebutuhan, tapi karena “lagi viral”. Menurut Dewi Ningsih, et al. perilaku konsumtif sering terbentuk setelah paparan konten, bukan berasal dari kebutuhan sebenarnya.

Ruang Kreativitas dan Partisipasi Anak Muda

Meskipun begitu, buadaya viral tidak selalu berdampak buruk, TikTok juga memberi ruang kreativitas dan ekspresi diri. Banyak anak muda daerah yang dulunya sulit dikenal, sekarang bisa terkenal karena konten orisinil mereka buat. Banyak dari mereka mengangkat konten terkait budaya di daerah mereka, bahasa daerah mereka, atau canda lelucunon khas daerah mereka.

Fenomena ini menunjukkan bahwa budaa pop kini bersifat partisipatif, dimana semua orang bisa berperan dalam menciptakan tren dan makna baru di TikTok.

Pada akhirnya, budaya viral mencerminkan semangat zaman yang cepat, dinamis, dan serb instan. Tapi nilai yang bertahan bukan yang palng heboh, melainkan yang punya makna. Karena itu, sudah saatnya anak muda tidak hanya menjadi  peniru tren, tapi juga pencipta ide baru yang lebih relevan dan bernilai.

By Nisrina Syahira Ruwaidah


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *