Di era digital yang serba cepat istilah fear of missing out (FOMO) sering kali kita dengar, terutapa di kalangan mahasiswa, fenomena ini muncul ketika seseorang merasa khawatir atau takut ketinggalan informasi atau tren yang sering terjadi di media sosial, terutama pengalaman yang sedang ramai dibicarakan di kalangan anak muda, media sosial menjadi salah satu faktor utama yang membentuk budaya FOMO, karna setiap orang dapat melihat langsung aktifitas, pencapaian atau gaya hidup seseorang secara langsung instan dalam hitungan detik.
Keinginan Untuk Diakui
Salah satu foktor utama terjadinya budaya FOMO ketika seseorang merasa ingin di akui sebagai bagian dari salah satu kelompok sosial, ketika orang lain mengikuti tren terbaru seperti fashion, makanan viral hingga tempat wisata baru sering merasa terdorong untuk melakukan hal yang sama agar tidak di anggap “ketinggalan zaman”, algoritma media sosial yang sering kali memunculkan konten yang viral membuat dorongan tersebut semakin besar.
Ketakutan Melewatkan Pengalam Berharga
Selain dorongan media sosial, FOMO juga muncul karna kekhawatiran tidak mendapatkan pengalaman yang di anggap berharga, misalnya ketika melihat teman yang mengikuti konser besar, diskon kiat atau mencoba teknologi baru, muncul rasa cemas bahwa kita melewatkan sesuatu yang mungkin menyenangkan atau bermanfaat. Hal ini secara tidak langsung menciptakan budaya membandingkan diri dengan orang lain, yang sering kali berdampak tidak baik serta tidak puas terhadap diri sendiri.
FOMO Sebagai Motivasi Positif
Akan tetapi, budaya FOMO tidak selalu berdampak negatif pada seseorang, dalam beberapa kasus, FOMO bisa memotivasi seseorang untuk mencoba hal baru, memperlus relasi, wawasan dan tetap up to date terhadap perkembangan zaman. Namun, ketika seseorang takut ketinggalan tren takut merasa tertinggal itu hanya menguras waktu, atau memicu keputusan cepat tanpa pikir panjang, FOMO dapat bermasalah yang perlu diwaspadai.
Cara Mengurangi Rasa FOMO
Cara terbaik dalam mengatasi budaya FOMO adalah dengan cara meningkatkan kesadaran diri terhadap penggunaan media sosial, mengatur waktu bermain gadget, membatasi melihat konten viral dan fokus pada tujuan individu dapat membantu seseorang merasa lebih tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan serta dorongan media sosial. Dengan memahami bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda, kita bisa lebih menikmati proses tanpa merasa terpaksa mengikuti tren yang muncul.
Budaya FOMO adalah cerminan dari era modern yang penuh dengan konektivitas. Tren akan selalu berubah, dan tidak salah jika kita mengikuti semuanya, yang terpenting adalah tetap memilih hal yang benar benar membawa nilai positif danpa harus terbawa arus media sosial.
Leave a Reply