Peristiwa yang terjadi di SMAN 72 Jakarta mengguncang publik bukan hanya karena skala ledakannya, tetapi juga karena pelakunya adalah seorang siswa sendiri. Dilansir dari laporan Suara, polisi menyebut bahwa pelaku tidak memiliki tempat untuk bercerita dan memendam rasa sakit akibat tekanan sosial yang ia alami di sekolah. Di balik tragisnya insiden ini, terdapat persoalan mendasar yang sering terabaikan di lingkungan pendidikan, yaitu gagalnya komunikasi interpersonal yang seharusnya menjadi jembatan antara emosi, emapati, dan pemahaman. Ketika seorang remaja kehilangan ruang untuk berbagi beban, potensi tindakan ekstrem bisa muncul tanpa disadari.
Menurut kajian komunikasi interpersonal, setiap individu membutuhkan hubungan yang suportif agar dapat mengekspresikan perasaannya dengan sehat. Pelaku diduga mengalami perlakuan tidak menyenangkan dan memilih diam, karena ia merasa tidak memiliki figur yang bisa ia percaya sebagai tempat curhat. Dalam konteks sekolah, hubungan antarsiswa, guru, dan konselor seharusnya mampu memberikan ruang aman bagi siswa untuk menyampaikan keluh kesah. Namun ketika komunikasi tidak berjalan, tekanan yang menumpuk dapat melahirkan rasa terasing, dendam, dan keinginan untuk membalas.
Bullying yang dialami pelaku menunjukkan bahwa kekerasan tidak selalu berupa pukulan. Kekerasan yang paling berbahaya justru yang tidak terlihat, seperti pengabaian, ejekan, dan penolakan sosial. Fenomena ini selaras dengan teori tentang kekerasan simbolik, di mana seseorang dihancurkan dari dalam melalui kata, sikap, dan pengucilan. Peristiwa ini mengajarkan bahwa bullying bukan hanya persoalan moral, tetapi juga persoalan komunikasi yang gagal mengajarkan empati. Ketika kelompok sebaya lebih memilih menertawakan daripada mendengarkan, maka ruang sosial sekolah menjadi lingkungan yang tidak lagi aman bagi pertumbuhan psikologis remaja.
Pada akhirnya, ledakan di SMAN 72 bukan hanya tragedi fisik, tetapi juga sinyal keras bahwa sekolah harus memperbaiki sistem komunikasi di dalamnya. Ruang konseling tidak boleh menjadi formalitas, dan guru tidak cukup hanya mengajar tanpa membangun relasi emosional. Orang tua juga perlu terlibat lebih dalam memahami kehidupan sosial anaknya. Pertanyaannya, apakah sekolah kita sudah menjadi tempat yang cukup aman bagi siswa untuk berbicara dan didengarkan?

Leave a Reply