Era Baru: Netizen Sebagai Media

Di era digital, setiap orang bisa menjadi “jurnalis mendadak”. Hanya dengan ponsel dan akses internet, informasi dapat menyebar dalam hitungan detik. Selain itu, melalui platform seperti TikTok, Instagram, Youtube, dan X siapapun dapat membagikan foto, video, atau cerita dari peristiwa yang mereka lihat. Namun, di balik kebebasan ini muncul pertanyaan penting: siapa yang sebenarnya mengontrol informasi hari ini?

Perubahan Akses Informasi

Dulu, informasi hanya datang dari media resmi seperti televisi, surat kabar, dan portal berita. Akan tetapi, sekarang keadaan berubah. Sering kali kita justru mendapatkan kabar dari unggahan netizen lebih cepat dibandingkan berita resmi. Misalnya, pada sebuah kejadian besar seperti kecelakaan atau bencana alam, video amatir bisa viral terlebih dahulu. Namun, perubahan ini membawa risiko baru: tidak semua informasi yang tersebar itu benar.

Contoh Hoax yang Menyesatkan

Salah satu contoh terjadi saat gempa Cianjur tahun 2022. Di media sosial muncul video bangunan roboh yang diklaim berasal dari Lokasi kejadian. Banyak orang membagikannya tanpa memeriksa kebenaran informasi tersebut. Namun, setelah ditelusuri oleh Saber Hoaks Jawa Barat, ternyata video itu bukan berasal dari Cianjur. Video tersebut adalah rekaman lama gempa Palu-Donggala tahun 2018. Akibatnya, masyarakat mengalami kebingungan dan salah paham.

Selain itu, kasus serupa juga terjadi dengan potongan video yang menampilkan logo Kompas TV mengenai vaksin COVID-19. Video itu memunculkan narasi bahwa vaksin tersebut palsu. Setelah dicek ulang, ternyata video itu adalah laporan berita tahun 2016 tentang vaksin anak palsu, bukan vaksin COVID-19. Video lama tersebut diedit ulang dan disebarkan dengan narasi baru yang berbeda.

Dampak: Krisis Kepercayaan Publik

Dua kasus tersebut menunjukkan bahwa informasi di internet mudah dimanipulasi. Cuplikan video lama bisa tampil seperti berita baru hanya karena diberi narasi berbeda. Akibatnya, kepercayaan public terhadap media resmi semakin menurun. Pada akhirnya, fenomena ini menimbulkan krisis kepercayaan, yaitu kondisi ketika masyarakat tidak tahu lagi mana informasi yang benar dan mana yang palsu.

Peran Netizen dalam Informasi Digital

Fenomena “netizen sebagai media” menunjukkan bahwa kekuatan penyebaran informasi kini berada di tangan masyarakat. Namun, kebebasan ini perlu diimbangi dengan kesadaran penuh dan tanggung jawab. Oleh karena itu, sebelum membagikan informasi ada baiknya kita memastikan beberapa hal, yaitu: Pertama, apakah sumbernya jelas dan terpercaya?. Kedua, apakah tanggal publikasi sesuai dengan konteks?. Ketiga, apakah informasi tersebut sudah terverifikasi?

Sebagai pengguna internet, kita punya peran dalam membentuk opini publik. Maka dari itu, sebelum menekan tombol “bagikan”, pastikan terlebih dahulu apakah informasi itu benar atau hanya menyesatkan.  Pada akhirnya yang terpenting dalam dunia digital bukan hanya kecepatan berbagi informasi, tetapi ketepatan dan tanggung jawab saat menyebarkannya. Karena sekali informasi salah menyebar, dampaknya bisa membingungkan, merugikan, bahkan memecah kepercayaan antar masyarakat.

By Nasywa Zahratul Badi’ah


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *