Di zaman yang semakin dipenuhi dengan kuatnya arus teknologi, seringkali menjadikan manusia abai untuk melihat dirinya sendiri di dunia nyata. Mereka sibuk beradaptasi dengan dunia digital, seolah perkembangan hidup saat ini hanya diukur melalui banyaknya tren yang ada. Waktu dimana seharusnya perbincangan masih selalu terasa hangat tanpa adanya notifikasi layar, perlahan hilang terbawa derasnya perkembangan dan arus digital.
Perubahan kebiasaan manusia yang mulanya bersifat sosial, perlahan berganti menjadi manusia digital yang berjiwa individual. Hal ini juga tercatat dalam studi Expressions of Individualization on The Internet and Social Media, bahwa era digital membentuk individualisme baru melalui self-presentation di media sosial (Mayer G, dkk. 2020).
Jika dilihat lebih jauh, baik manusia maupun teknologi, keduanya melalui proses berkembang dan pembelajaran yang tak pernah berhenti. Sebagaimana manusia, yang selalu berproses dalam kehidupannya, memahami hal-hal baru yang menjadi pelajaran untuk terus memperbaiki kesalahan yang masih bisa disusun kembali. Maka begitupun teknologi, pembaharuan yang terus ada, disempurnakan, lalu dikembangkan agar mampu berinovasi dan memenuhi kebutuhan manusia.
Keduanya saling mencari versi yang terbaik dari dirinya. Bedanya, teknologi belajar melalui algoritma dan data-data yang ada, sedangkan manusia belajar melalui pengalaman hidup dan pengelolaan emosi. Pada tahap ini, muncul sebuah paradoks menarik: semakin manusia menciptakan teknologi yang semakin pintar, mereka juga dituntut untuk tidak kehilangan sisi kemanusiaannya sendiri.
Lalu, akan muncul suatu proses belajar di masa depan, saat manusia berhadapan di ruang yang sama, bersama teknologi. Di tengah benturan antara logika, emosi, dan data, manusia dihadapkan pada pertanyaan sederhana namun sulit diolah, apakah teknologi dapat terus berkembang tanpa adanya manusia, atau justru manusia bisa terus berkembang karena adanya teknologi?

Leave a Reply