Generasi Lemah dan Sistem yang Lelah

Di ruang kerja, media sosial, hingga meja makan keluarga, perdebatan soal “generasi malas” dan “generasi lemah” tak pernah benar-benar usai. Gen Z dituding manja dan sulit berkomitmen, sementara generasi sebelumnya dianggap terlalu kaku dan tak mau mendengar. Dua kutub ini saling menilai tanpa menyadari satu hal penting, mereka sama-sama hidup dalam sistem yang sedang kehilangan relevansinya.

Generasi sebelum Gen Z tumbuh dalam paradigma kerja yang menuhankan produktivitas. Di mana loyalitas diukur dari jam lembur, bukan hasil. Mereka membangun dunia dengan fondasi ketekunan, tetapi juga mewariskan struktur yang menekan. Jam kerja panjang, ketimpangan pendapatan, dan budaya diam terhadap ketidakadilan. Kini, ketika Gen Z menolak pola lama dengan menuntut keseimbangan hidup dan kesehatan mental, benturan nilai pun tak terhindarkan.

Namun persoalan ini lebih besar dari sekadar perbedaan gaya kerja. Dunia kini bergerak dengan ritme baru digitalisasi, disrupsi ekonomi, dan ketidakpastian yang menuntut adaptasi cepat. Sistem lama yang kaku tak lagi cukup menampung dinamika ini. Gen Z bukan menolak kerja keras, mereka menuntut cara kerja yang lebih manusiawi dan relevan dengan realitas zaman.

Pada akhirnya, persoalan lintas generasi ini bukan soal siapa yang lebih kuat atau lebih lemah, melainkan tentang bagaimana sistem sosial dan ekonomi perlu direvisi. Jika generasi sebelumnya membangun pondasi, maka generasi sekarang berhak memperbaruinya. Karena dalam perubahan, tak ada generasi yang kalah, yang ada hanya sistem yang perlu tumbuh bersama zamannya.

By Khansa Athifa


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *