Rambo dan Perang Vietnam: Bagaimana Amerika ‘Menang’ di Layar Lebar

Film Rambo: First Blood Part II adalah salah satu film ikonik yang membawa narasi patriotik Amerika ke layar lebar, khususnya terkait Perang Vietnam. Meskipun dalam kenyataannya Amerika Serikat mengalami kekalahan telak di Vietnam, film ini justru memberikan narasi yang berlawanan. Di layar lebar, Rambo, seorang tentara veteran, dikirim kembali ke Vietnam untuk “menyelamatkan” tawanan perang Amerika dan, secara simbolis, memenangkan perang yang telah mereka kalahkan.

Konflik Dengan Perjuangan (Sumber: Freepik.com)

Namun, fakta bahwa Amerika kalah dalam Perang Vietnam dan kehilangan lebih dari 58 ribu tentaranya tidak pernah disembunyikan oleh siapa pun. Seluruh dunia tahu bahwa Amerika Serikat kalah perang, dan Vietnam akhirnya bersatu sebagai negara komunis. Dalam konteks ini, film Rambo jelas merupakan hiburan semata. Banyak penonton, terutama para veteran perang, menonton film tersebut dengan pemahaman yang jelas bahwa kisah Rambo adalah fantasi belaka. Sulit dipercaya bahwa satu orang seperti Rambo, yang tampil mencolok dengan pakaian ala militer dan senjata besar, bisa mengalahkan pasukan Vietnam sendirian. Bahkan, bagi banyak veteran, adegan-adegan tersebut bisa dianggap lucu dan tidak realistis.

Pertanyaan “Apakah Rambo adalah propaganda” atau hanya sekedar hiburan tergantung pada siapa yang menonton. Bagi sebagian penonton yang tidak terlalu paham konteks sejarah, film ini bisa memicu semangat patriotisme dan memperkuat gagasan bahwa Amerika tetap kuat. Namun, bagi mereka yang memahami fakta sebenarnya, Rambo adalah sekadar fantasi aksi tanpa dasar sejarah yang kuat.

Dari sudut pandang ilmu komunikasi, Rambo adalah contoh bagaimana film dapat digunakan sebagai alat framing, sebuah teknik di mana media membentuk cara audiens memahami suatu peristiwa atau masalah. Dalam hal ini, Rambo menyajikan Perang Vietnam sebagai kesempatan bagi Amerika untuk “menebus” kekalahan mereka. Film ini menghadirkan pesan terselubung bahwa Amerika, melalui sosok seperti Rambo, selalu bisa bangkit dan tetap berkuasa, meskipun kenyataan di lapangan berkata lain.

Faktanya, Hollywood sering kali memainkan peran penting dalam membentuk persepsi publik tentang peristiwa sejarah. Melalui penggambaran heroik dan kisah yang penuh aksi, film seperti Rambo bisa mengubah cara penonton, khususnya yang tidak terlalu memahami sejarah, melihat Perang Vietnam. Mereka mungkin percaya bahwa Amerika seharusnya menang atau setidaknya melihat kekalahan tersebut sebagai suatu pengecualian yang tidak mencerminkan kekuatan sebenarnya dari militer AS.

Namun, ini bukan hanya soal propaganda. Para penonton yang lebih kritis atau yang memiliki pengetahuan sejarah yang mendalam akan menertawakan betapa tidak realistisnya film ini. Mereka tahu bahwa tidak mungkin pasukan Vietnam bisa begitu mudah dikerjai oleh satu orang, apalagi veteran perang yang menonton film ini dengan mata yang penuh sinisme. Jadi, apakah Rambo berhasil sebagai alat propaganda atau hanya sebagai hiburan murni, tergantung pada konteks dan latar belakang penontonnya.

Sebagai bagian dari dunia hiburan, Rambo juga menggabungkan elemen-elemen edukasi dan komunikasi. Film ini mengajarkan kita bagaimana narasi dapat dibentuk untuk menciptakan rasa bangga nasional meskipun faktanya jauh dari kenyataan. Ini juga menunjukkan bagaimana media visual seperti film memiliki kekuatan besar dalam membentuk ingatan kolektif tentang suatu peristiwa sejarah. Namun, di balik semua aksi dan ledakan, Rambo hanyalah fantasi layar lebar, sebuah cara bagi Amerika untuk “menang” di medan perang yang sudah mereka tinggalkan.

Penulis : Bilal Irfani

Editor : Maya Maulidia


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *