Menyoroti Sikap Apatis dalam Penggunaan Grup WhatsApp

Perkembangan teknologi komunikasi yang begitu pesat diikuti dengan kehadiran platform media sosial seperti WhatsApp yang sedang ramai digunakan untuk melakukan sebuah komunkasi dan interaksi oleh Masyarakat tak terkecuali dalam skala kecil seperti organisasi. Kehadiran fitur grup WhatsApp, dapat mempermudah sebuah organisasi untuk melakukan atau memberikan informasi, komunikasi dan interaksi. Per Januari 2024, WhatsApp menjadi salah satu platfrom yang sangat penting di Indonesia dengan lebih 86,9 juta pengguna aktif. Dan juga jumlah anggota grup WhatsApp bisa mencapai 1.024 orang dengan panggilan suara grup WhatsApp bisa diikuti oleh hingga 32 orang. 

Aplikasi WhatsApp menempati urutan ke 1, sebagai aplikasi free terpopuler di India. Sedang di Indonesia, menempati ke 3. Maksud dari peringkat ini adalah, di kawasan Asia Pasifik WhatsApp masih sangat populer. India sendiri saja memiliki populasi 5 kali Indonesia. Ditambah populasi Australia yang hanya 1/10 Indonesia. Secara global, bisa dibilang WA menjadi aplikasi chat primadona. Dengan kesederhanaan dan keamanan privasi P2P (peer-to-peer) encryption. WhatsApp sangat membantu komunikasi, interaksi, dan bisnis. Secara Global WhatsApp menjadi aplikasi chat yang di primadonakan, dengan kesederhanaan dan keamanan privasi P2P(Peer-to-peer) encryption yang sangat membantu dalam berkomunikasi, initeraksi, dan berorganisasi. 

Di balik popularitasnya, WhatsApp juga memiliki sisi negatif yang sering diabaikan. Aplikasi ini, tanpa disadari, mendorong kita untuk bersikap apatis dan kurang peduli terhadap informasi. Jika kita perhatikan grup WhatsApp, banyak pesan yang dibagikan setiap saat, tetapi berapa banyak yang benar-benar kita baca atau balas? Kebanyakan dari kita hanya memilih-milih pesan yang penting, bahkan cenderung mengabaikan notifikasi yang tidak relevan.

Sikap asimpatik juga muncul, di mana kita menjadi tidak peduli terhadap pesan orang lain. Hal ini tidak selalu mewakili kepribadian kita di dunia nyata, tetapi lebih disebabkan oleh banyaknya notifikasi dan percakapan di ponsel. Fitur seperti dua centang abu-abu yang menunjukkan pesan belum dibaca juga menambah kecenderungan ini. Bahkan, ada aplikasi modifikasi yang memungkinkan pesan tetap hanya satu centang abu-abu, seolah-olah tidak pernah diterima.

Ketika kita menunggu balasan dari pesan yang penting, munculnya centang abu-abu ini seringkali membuat kita cemas. Kita merasa terikat pada teknologi, yang membuat kita terus memantau dan menunggu balasan, meski di kehidupan nyata kita mungkin tidak seapatis itu.

WhatsApp bisa memunculkan kelelahan mental akibat terus menerus terlibat dalam percakapan grup atau mengikuti perkembangan isu-isu yang tiada habisnya. Ini membuat kita merasa perlu untuk mengambil jarak, mengurangi intensitas percakapan, dan lebih sering bertemu langsung dengan orang lain. Teknologi yang seharusnya mendekatkan, justru bisa menjauhkan kita secara emosional.
Namun, dibalik sisi negatif dari grup WhatsApp. WhatsApp ini sangat membantu dalam melakukan komunikasi dalam sebuah organisasi atau kelompok. Pasalnya dalam satu grup WhatsApp bisa terdiri dari banyak orang anggota dan dengan satu informasi saja sudah dapat tersampaikan dengan banyak orang di grup WhatsApp tersebut, dan tidak perlu melakukan brodcast ke masing-masing orang untuk menerima sebuah informasi tersebut. Dengan adanya grup WhatsApp komunikasi dan informasi dalam sebuah organisasi menjadi lebih efektif. Meskipun ada beberapa orang yang bersikap seperti apatis. Dan hal tersebut dapat diatasi dengan adanya fitur mention dari WhatsApp.

Penulis: Ananda Dwi Pangestu
Editor: Fira Alraen


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *