Perilaku Orang Tua Sehari-hari Berdampak Copying pada Anak (Parents Do Children Do); Kasus Laura Meizani Nasseru Asry atau Lolly dan Nikita Mirzani atau Nikmir

Hei, sobat pembaca! Pernahkah Anda mendengar, “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”? Ungkapan ini sangat cocok untuk menggambarkan bagaimana anak-anak sering meniru perilaku orang tua mereka. Mari kita lihat contoh nyata dari dunia selebriti Indonesia. Kali ini, kita akan membahas topik yang menarik sekaligus penting, yaitu bagaimana perilaku orang tua sehari-hari bisa berdampak besar pada anak-anak mereka.

Yup, benar sekali! Apa yang dilakukan orang tua bisa jadi “template” buat anak dalam bertingkah laku. Kita akan mengambil contoh dari dua public figure yang sedang ramai diperbincangkan, yaitu Laura Meizani Nasseru Asry (atau yang lebih dikenal sebagai Lolly) dan Nikita Mirzani (atau Nikmir).

Apa Itu “Orang Tua Bertindak, Anak Meniru”?

Pertama-tama, mari kita pahami dulu nih konsep “Parents Do, Children Do”. Ini bukan sekadar pepatah kuno, lho! Banyak penelitian psikologi yang membuktikan bahwa anak-anak cenderung meniru perilaku orang tua mereka.

Bayangkan anak-anak sebagai cermin. Mereka memantulkan apa yang mereka lihat dan dengar di rumah. Ini adalah inti dari konsep “Orang Tua Bertindak, Anak Meniru”. Saat orang tua berbicara lembut, anak cenderung melakukan hal yang sama. Jika orang tua sering marah-marah, jangan heran jika anak juga mudah emosi.

Mengenal Nikita Mirzani dan Lolly

Nikita Mirzani, atau Nikmir, adalah selebriti yang terkenal blak-blakan. Ia sering tampil dengan pakaian terbuka dan berbicara apa adanya. Laura Meizani Nasseru Asry atau biasa dikenal Lolly adalah putri Nikmir. Di usia muda, Lolly sudah aktif di media sosial. Ia sering menjadi sorotan karena gaya hidupnya yang mirip sang ibu.

Bagaimana Lolly “Meniru” Nikmir?

Lolly sering berbicara tegas seperti ibunya. Ia juga tidak ragu tampil dengan pakaian yang menarik perhatian. Di media sosial, Lolly berani mengungkapkan pendapatnya. Ini mirip dengan cara Nikmir menghadapi publik.

Hasilnya? Kita bisa lihat Lolly tumbuh menjadi remaja yang juga cukup vokal dan berani tampil di depan publik. Meski masih remaja, Lolly terlihat sangat percaya diri di depan kamera. Dia aktif di media sosial dan tak segan membagikan opininya, mirip seperti sang ibu. Bahkan, gaya berpakaian dan cara bicaranya pun ada kemiripan dengan Nikmir. Ini bukan berarti salah ya, tapi jelas menunjukkan adanya pengaruh kuat dari perilaku orang tua.

Di sisi lain, kita juga melihat Lolly terkadang terlibat dalam kontroversi di media sosial. Beberapa netizen bahkan mengomentari bahwa sikap dan gaya bicaranya terlalu dewasa untuk usianya. Ini bisa jadi cerminan dari lingkungan di mana dia tumbuh, di mana keterbukaan dan kebebasan berekspresi sangat ditekankan.

But, penting untuk diingat bahwa setiap anak adalah individu unik. Meskipun ada pengaruh kuat dari orang tua, Lolly juga punya kepribadiannya sendiri. Dia mungkin mengadopsi beberapa sifat ibunya, tapi juga mengembangkan karakteristiknya sendiri seiring berjalannya waktu.

Lalu, apa sih dampak dari fenomena “Parents Do, Children Do” ini? Pertama, seorang anak bisa jadi lebih cepat dewasa dalam hal pemikiran dan perilaku. Ini bisa jadi pisau bermata dua. Di satu sisi, mereka mungkin lebih mandiri dan percaya diri. But in other side, mereka bisa kehilangan masa kanak-kanak mereka terlalu cepat.

Kedua, anak-anak mungkin mengadopsi cara pandang dan nilai-nilai yang dipegang orang tua mereka tanpa memahami sepenuhnya. Misalnya, jika orang tua sering berkata kasar atau bersikap agresif, anak mungkin menganggap itu sebagai cara normal untuk mengekspresikan diri.

Ketiga, eksposur berlebihan terhadap kehidupan publik bisa membuat anak kurang memahami batasan privasi. Mereka mungkin merasa wajar untuk membagikan semua aspek kehidupan mereka ke publik, yang bisa jadi problematik di masa depan.

Kesimpulan: Membangun Generasi Lebih Baik

Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari kasus Lolly dan Nikmir ini? Yang jelas, orang tua perlu sadar bahwa setiap tindakan mereka punya potensi untuk ditiru anak. Mulai dari cara berbicara, bersikap, sampai bagaimana memperlakukan orang lain.

Bukan berarti orang tua harus jadi sempurna ya, itu sih mustahil! But mereka bisa mulai dengan hal-hal kecil. Misalnya, kalau ingin anak bersikap sopan, yuk mulai dengan selalu berkata “tolong” dan “terima kasih”. Kalau ingin anak menghargai privasi, mulailah dengan menghormati privasi mereka juga.

Penting juga untuk menciptakan ruang diskusi terbuka dengan anak. Ajak mereka ngobrol, dengarkan pendapat mereka, dan jelaskan kenapa sesuatu dilakukan dengan cara tertentu. Dengan begitu, anak tidak hanya meniru, tapi juga memahami alasan di balik sebuah perilaku.

So, yuk mulai dari diri sendiri! Jadilah contoh yang baik, tapi tetap manusiawi. Ingat, anak-anak sedang menonton dan belajar dari orang tua setiap hari. and then mari bersama-sama menciptakan generasi yang lebih baik, satu langkah kecil setiap harinya!

Sumber:

Baumrind, D. (1991). “The Influence of Parenting Style on Adolescent Competence and Substance Use”. The Journal of Early Adolescence, 11(1), 56-95.

Ginott, H. G. (2003). Between Parent and Child: Revised and Updated. Harmony.

Kompas.com. (2021). “Profil Nikita Mirzani, Artis Kontroversial yang Kerap Terlibat Perseteruan”.

Maccoby, E. E. (2000). “Parenting and its Effects on Children: On Reading and Misreading Behavior Genetics”. Annual Review of Psychology, 51(1), 1-27.

Tribunnews.com. (2023). “Profil Laura Meizani, Putri Nikita Mirzani yang Viral karena Unggahan di Medsos”.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *