World Clean Up Day diperingati pada 20 September 2024 tahun ini. Hari bersih-bersih sedunia ini merupakan acara yang bertujuan untuk mengajak masyarakat dunia berpartisipasi dalam merubah perilaku sosial tentang sampah yang tidak terkelola dengan baik. Tidak hanya pada sektor lingkungan hidup, kampanye ini turut mengajak masyarakat dari segala sektor untuk dapat menggalakkan acara dari kampanye ini.
Kebersihan lingkungan merupakan suatu hal penting yang patut diperhatikan. Termasuk soal menjaga keseimbangan ekosistem agar dapat menekan perubahan iklim ekstrem akhir-akhir ini. Kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh berbagai polusi termasuk sampah ternyata dapat mempengaruhi kondisi psikologis manusia.World Clean Up Day 2024 tidak hanya tentang mengurangi sampah dan menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga tentang memahami bagaimana lingkungan bersih dan terjaga dapat mempengaruhi kesehatan mental manusia.
Di Tengah krisis lingkungan dan perubahan iklim yang semakin parah, ada dampak psikologis yang muncul dan seringkali tidak disadari. Perubahan lingkungan secara drastic dapat memicu gangguan kesehatan mental, termasuk kecemasan dan depresi.Perubahan iklim telah terbukti memperburuk kesehatan mentak dengan beberapa cara. Studi yang diterbitkan di The Lancet Psychiatry menyebutkan bahwa individu yang terpapar bencana lingkungan seperti banjir dan kebakaran hutan lebih rentan mengalami stres pascatrauma (PTSD), kecemasan, hingga depresi.
Dalam konteks kebersihan lingkungan, kondisi yang tercemar dapat menambah tingkat stres juga cemas pada individu, khususnya mereka yang tinggal di perkotaan dengan tingkat polusi yang tinggi.Lingkungan yang bersih memiliki peran penting dalam menciptakan suasana yang mendukung kesehatan mental. Ruang hijau yang terawat, air yang bersih dari pencemaran, serta udara bersih mengandung oksigen yang cukup untuk tubuh menghasilkan hormon yang membawa pada rasa senang dan ketenangan emosional manusia. Sebuah penelitian dari psychological association menunjukkan bahwa akses ke lingkungan yang bersih dan alami dapat mengurangi tingkat stres dan meningkatkan mood.
Kebersihan lingkungan juga memiliki kaitan pada tingkat kontrol individu terhadap kehidupan sehari-hari mereka, yang pada akhirnya dapat memperbaiki kualitas mental dan keindahan lingkungan sekitar.Di sisi lain, perubahan iklim yang tidak terkendali membawa konsekuensi negative pada kesehatan mental.
Meningkatnya suhu bumi, bencana alam yang sering terjadi, serta ancaman polusi yang terus meningkat kian menghantui hingga memberikan tekanan besar, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah-daerah rentan. Kemudian muncullah sebuah konsep “eco-anxiety” yang tinbul akibat kekhawatiran terhadap dampak perubahan iklim. Banyak orang, terutama generasi muda merasa khawatir dengan masa depan planet ini, dan hal tersebut akhirnya memengaruhi kondisi mental dan emosional mereka.Sesederhana bencana banjir yang terus melanda Jakarta sebagai salah satu kota bisnis dunia, yang kemudian merambah pada isu tenggelamnya Jakarta dengan bukti nyata didepan mata.
Kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan yang menewaskan banyak satwa, penebangan hutan sebagai lahan sawit dan pembuatan PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) lainnya yang begitu mencemari udara dengan dampak kesehatan nyata disekitarnya, sudah cukup membuat tingkat stres dan kecemasan anak muda naik.World Clean Up Day menjadi salah satu program penting selain untuk mengangkat isu sampah, tapi juga merespon isu-isu psikologis yang berkaitan dengan kebersihan dan perubahan iklim. Ketika orang-orang terlibat secara kolektif dalam aksi nyata membersihkan lingkungan, ada perasaan kolektivitas dan kendali yang dapat mengurangi rasa cemas. Keterlibatan dalam kegiatan ini memberi individu tujuan positif dan perasaan bahwa mereka sedang berkontribusi untuk sesuatu yang lebih besar sehingga hal tersebut dapat memperbaiki kondisi mental mereka.
Edukasi mengenai dampak lingkungan terhadap kesehatan mental juga perlu digalakkan, khususnya pada hari bersih-bersih sedunia. Dengan memahami bahwa kerusakan dan tercemarnya lingkungan sangat berdampak serius terhadap kesehatan mental mereka, mak akan semakin banyak anak muda yang tergerak untuk turut berpartisipasi dalam menjaga kebersihan dan keberlangsungan ekosistem dengan baik untuk masa depan manusia dan keturunannya.
Pemerintah, organisasi kesehatan mental, juga organisasi peduli lingkungan hidup dapat menjalin Kerjasama dalam menciptakan program-program yang membantu individu dalam mengatasi dampak psikologis dari perubahan lingkungan, termasuk menyediakan dukungan bagi mereka yang mengalami eco-anxiety.Di masa depan, menjaga kebersihan lingkungan harus dipandang sebagi suatu bagian integral dalam Upaya mencipatakn masyarakat yang sehat secara fisik maupun mental. World Clean Up Day bisa menjadi titik awal untuk memperluas pemahaman ini, serta mendorong lebih banyak aksi nyata dalam menjaga lingkungan demi menjaga kesehatan mental kita bersama.
Penulis: Rahma Nurul Izzah
Editor: Muhammad Sayyid Rachman

Leave a Reply