Komuniasik – Media Sosial sedang ramai dengan keluhan para pedagang di Tanah Abang yang mengalami penurunan pendapatan karena sepinya pembeli dan tiktok shop menjadi salah satu penyebabnya. Suasana pasar Tanah Abang sangat lenggang, banyak pedagang yang menutup usahanya karena pemasukan yang kian menurun.
Tanah Abang berlokasi di Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, merupakan pasar yang dikenal sebagai pusat distribusi tekstil dan produk tekstil ke berbagai daerah di Indonesia. Banyak pedagang daerah yang membeli produk penjualannya dari Tanah Abang. Dilansir dari suara.com, kini kondisi aktivitas penjualan di Tanah Abang memprihatinkan, pedagang mengalami penurunan omzet yang membuat sepinya para pembeli. Kecanggihan teknologi dengan maraknya platform belanja online menjadi penyebab pasar Tanah Abang menjadi sepi pengunjung. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KEMenKop UKM), Teten Masduki mengungkap penyebabnya adalah akibat tren perubahan pola belanja offline ke online. Disisi lain, e-commerce atau local pasar dikuasai oleh produk asing.
Dikutip dari CNBC Indonesia, pedagang di Pasar Tanah Abang menyuarakan keprihatinan mengenai penurunan omzet karena persaingan yang ketat dengan para pedagang yang melakukan live shopping. Harga produk yang lebih rendah dari rata-rata mengakibatkan penurunan minat pembeli di area pasar karena harga yang ditawarkan berpotensi menyebabkan kerugian bagi pedagang jika diterapkan dalam penjualan offline.
“Yang dikeluhkan pedagang daya beli sangat rendah, kemudian maraknya perdagangan online terus di luar pasar Tanah Abang ada pedagang non formal jualan di lokasi sekitar pasar Tanah Abang. Ini dampak ke pedagang Tanah Abang. Pedagang daerah yang biasa grosir ke Pasar Tanah Abang mereka langsung ke pasar non formal di sekitar pasar Tanah Abang. “ Tutur Yasril, salah satu pedagang di Tanah Abang kepada CNBC Indonesia.
Para pedagang telah mencoba memasarkan produk mereka melalui Tiktok Shop dan berupaya menyesuaikan diri dengan perkembangan digitalisasi yang membawa perubahan dalam pola perdagangan dimana pembeli tidak perlu lagi datang ke tempat secara offline dan hanya menonton penjualan di Tiktok Shop tersebut. Namun, sayangnya hasil yang diharapkan tidak sesuai dan malah mengalami penurunan pendapatan. Disisi lain, sebagian pedagang mengalami peningkatan penjualan dengan menggunakan Tiktok Shop, akan tetapi kebijakan baru dari Tiktok Shop yang memotong 4% dari setiap transaksi dan pedagang yang mesti menanggung biaya pengiriman membuat sebagian besar pedagang mempertimbangkan kembali terkait penggunaan Tiktok Shop tersebut.Top of Form
Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan, sebelumnya mengemukakan wacana pencabutan izin bagi platform media sosial yang juga menyediakan layanan belanja online, dengan prinsip bahwa keduanya tidak boleh digabungkan dalam satu platform. Zulkifli dan timnya menggelar rapat yang membahas rencana tindakan terhadap pelanggaran yang terkait dengan Tiktok Shop di Indonesia.
Terkait isu Tiktok Shop akan dihapus, dilansir dari kontan.co.id. Menurut Saina, salah satu penjual di Tanah Abang mengaku setuju dengan adanya penutupan Tiktok Shop. Dia meyakini bahwa hal ini akan mengembalikan kehidupan pasar yang ramai, sebab penutupan Tiktok Shop tidak berpengaruh jika pasar tetap sepi. Bagi pedagang, tantangan utama dalam Tiktok Shop adalah mengembangkan strategi untuk mendapatkan banyak penonton karena berjualan di platform ini tidak berguna jika tanpa adanya penonton. Dalam mengembangkan penjualan, diperlukan strategi yang inovatif untuk menarik minat pembeli, karena seperti dikatakan, “strategi bisa dicontek, tetapi rezeki tidak bisa dipaste” (juproni.com).
Penulis: Dini Fauziah
Editor: Emilia

Leave a Reply