
Seluruh dunia saat ini sedang berjuang menghadapi wabah korona yang mengharuskan orang-orang untuk menghentikan aktivitasnya di luar rumah. Penduduk di Indonesia dan juga di beberapa belahan dunia harus belajar dan bekerja serta beraktivitas lainnya dari rumah untuk mengurangi penyebaran korona. Rutinitas baru tersebut tentunya membuat banyak orang memiliki waktu luang sehari-hari dan juga akhir pekan. Waktu luang tersebut di-era digital sekarang pasti banyak dimanfaatkan untuk menjelajah di dunia internet. Youtube menjadi salah satu platform yang menjadi tujuan banyak orang untuk mengisi waktu luang agar tidak bosan terlalu lama di rumah. Youtube sendiri merupakan sebuah platform yang menyediakan video dari berbagai pengguna di penjuru dunia (Jarrett, 2008). Youtube merupakan platform yang menerapkan user-generated-content (UGC) sehingga memungkinkan penggunanya untuk membuat dan menggunggah video yang sudah dibuat. Namun ternyata akhir-akhir ini banyak bermunculan youtuber (sebutan bagi seseorang yang rutin membuat dan menggunggah video di youtube yang mendapatkan banyak dampak negatif dari video yang diunggahnya.
Beberapa youtuber di Indonesia pernah menyampaikan permintaan maaf kepada netizen ketika konten video mereka dianggap mengandung unsur-unsur yang tidak sesuai dengan norma sosial di masyarakat oleh netizen. Bahkan beberapa youtuber harus menempuh kasus hukum karena konten yang diunggahnya di youtube tidak dapat diterima oleh netizen. Hal tersebut dapat terjadi karena youtuber tidak melakukan persiapan dan pertimbangan konten secara matang. Lalu apasih yang bisa dilakukan oleh para youtuber agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan nantinya ketika menggunggah videonya? Harapannya artikel ini bisa memberikan sedikit gambaran dan tips dari sisi komunikasi yang mungkin bisa dipertimbangkan dalam pembuatan konten.
Leon (2018) menyebutkan pada penelitiannya bahwa menurut youtuber yang menjadi informan menyebutkan terdapat 4 proses ketika membuat video untuk youtube. Proses pertama adalah pre-production yang merupakan proses merencanakan dan menentukan ide/konten youtube. Selanjutnya mengambil video dari konten yang sudah ditentukan. Proses ketiga adalah post-production yang terdiri dari proses edit dari materi audiovisual yang sudah diambil. Dan proses terakhir adalah publication ketika video diunggah di channel youtube. Jika dilihat dari profesionalitas sendiri, sampai saat ini belum ada standard khusus untuk mengukur profesionalitas seorang youtuber. Popularitas seorang youtuber dilihat dari likes dan subscriber dari channelnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak adanya juga standar etika yang dipegang dan disepakati bersama oleh Youtuber dalam mengupload video yang dibuatnya. Bila dibandingkan jurnalis sebagai profesi yang professional, dalam mengumpulkan berita maupun informasi-informasi untuk nantinya diterbitkan tentunya mereka memiliki etika yang harus dipenuhi.
Ward (2005) dalam jurnalnya menyebutkan bahwa terdapat 3 prinsip etika yang harus dipenuhi dalam jurnalisme. Prinsip pertama yaitu kredibilitas dimana jurnalis harus menyediakan kepada public berita dan analisis yang memiliki kredibilitas yang tentunya jurnalis menggunakan metode yang paling baik untuk mengumpulkan facta dan melakukan verifikasi terhadap informasi yang telah dikumpulkan. Prinsip pertama tersebut juga menuntut jurnalis untuk melihat pandangan-pandangan lain yang mungkin berkonflik dengan informasi-informasi yang dikumpulkan. Prinsip kedua adalah konsekuensi yang dibenarkan dimana jurnalis harus mampu untuk membenarkan dengan pernyataan yang kuat dari konsekuensi aksi-aksina berdasarkan dengan kesepakatan sosial. Dan Prinsip ketiga adalah kemanusiaan dimana jurnalis tidak memihak atau bersepakat dengan kelompok/pihak tertentu, dan informasi-informasi yang dikumpulkan dapat diterima oleh masyarakat.
Ketiga prinsip dasar tersebut tentunya bisa diterapkan oleh youtuber agar tetap dapat menyampaikan kreativitasnya tanpa harus menyinggung masyarakat dan juga tentunya tidak berdampak negatif kedepannya. Pada proses pre-production ketika merencanakan konten tentunya ketiga prinsip ini sangat penting diterapkan agar proses-proses selanjutnya dapat juga dapat berjalan lancar. Ketika konten direncanakan dengan matang pada pre-production, tentunya proses-proses selanjutnya juga akan mudah menerapkan ketiga prinsip jurnalistik. Tips yang sudah disampaikan tersebut semoga dapat bermanfaat bagi teman-teman yang ingin memulai menjadi youtuber untuk mengisi waktu luang dan ingin mengasah kreativitas.
Referensi
Jarrett, K. (2008). Beyond Broadcast Yourself: The Future of Youtube. Media Intenational Australia, 126(1), 132-144.
Leon, Laura. 2018. Child YouTubers and the Video Creation Process: Evidence of Transmedia Competences in Action
Penulis : Mentari Anugrah Imsa


Leave a Reply