Uncategorized

Ternyata Filantropi seperti Virus!

Filantropi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah cinta kasih (kedermawanan dan sebagainya) kepada sesama. Istilah ini umumnya diberikan kepada orang-orang yang memberikan banyak dana, amal, dan tindakan sukarela untuk kepentingan publik. 

Menurut sejarah, Filantropi di Indonesia berawal dari unsur Filantropi Tradisional yang bersumber dari agama, baik Islam maupun Kristen. Filantropi keagamaan di Indonesia ini terkait dengan kegiatan misionaris dan dakwah. 

Seiring berjalan nya waktu, gerakan filantropis atau aksi kedermawanan di Indonesia semakin pesat dan semakin banyak penggemarnya. Bukan hanya tokoh terkenal seperti public figure, pejabat-pejabat, dan orang yang berkecukupan yang melakukannya, namun kalangan orang biasa seperti gerakan-gerakan kaum muda untuk pencapaian Sustainable Development Goal (SDG) juga merupakan salah satu contoh tindakan filantropis.

YouTuber kondang, Edho Zhell, misalnya, sudah hampir dua tahun ia membagi-bagi makanan gratis lewat food truck yang dia juluki Warteg Gratis. Gerakan itu juga digagas oleh banyak kalangan, salah satunya adalah Gerakan Jumat Berkah Nasional yang berbagi makanan di 105 kota. Banyak pula kalangan lainnya yang berlomba-lomba untuk melakukan kegiatan filantropi ini

Yang dikhawatirkan adalah, tidak sedikit dari mereka yang melakukan kegiatan filantropi atau aksi kedermawanan tersebut dengan niat yang tersirat yakni untuk berburu viewers dan menjadikan nama mereka lebih besar dan lebih terkenal lagi dari sebelumnya. Semoga kita dapat menghindari hal yang demikian.

Dengan canggihnya teknologi di era modern ini, media sosial dapat diakses dengan mudah tidak seperti dulu. Kalangan orang biasa seperti kita ini dapat dengan mudahnya mempublikasikan segala hal dan kegiatan yang kita lakukan sehingga tidak hanya public figure saja yang bisa terkenal namun kita juga bisa. Banyak yang dapat kita temukan di media sosial tentang orang-orang kalangan biasa seperti kita yang menemukan tunawisma atau seseorang yang membutuhkan pertolongan jasa atau materi dengan diadakan nya donasi untuk orang tersebut. Dengan hal ini, banyak orang dari berbagai kalangan yang memberikan pertolongan melalui donasi tersebut dengan berbagai macam hal seperti kebutuhan pangan, sandang, dan sebagainya.

Kegiatan sejumlah lembaga Filantropi modern yang umum dikenal dari Amerika itu dapat disaksikan di seluruh belahan dunia. Di antaranya yang sempat terkenal di Indonesia adalah Ford Foundation dan Rackefeler Foundation. Keduanya telah berdiri, hidup, dan aktif lebih dari satu abad lamanya. Meski mempertahankan nama keluarga lembaga, derma sejenis ini praktis tidak lagi berkaitan dengan para ahli waris pendirinya. Donasi mereka menjadi abadi dan merupakan public trust. Yang menarik adalah kenyataan bahwa spirit filantropi ini terus tumbuh dan berkembang. Kini ribuan lembaga grant making seperti itu, besar atau kecil hidup di negeri paman sam yang kiprahnya banyak dinikmati oleh masyarakat termasuk mahasiswa Indonesia. 

Dikutip dari TEMPO.CO, Jakarta -Tahun lalu, Indonesia dinobatkan sebagai negara paling dermawan di dunia, diprediksi seiring meningkatnya figur ke dunia filantropi, selain para influencer media sosial, beberapa tokoh ternama di Indonesia juga dikenal sebagai seorang filantropis. Mereka mendirikan yayasan dan berdonasi secara berkelanjutan. Berikut adalah beberapa diantaranya :

  1. Jusuf Kalla

Mantan wakil presiden Indonesia, Jusuf Kalla, mendirikan Yayasan Kalla pada 24 April 1984. Menurut laman resminya, Yayasan Kalla resmi bergabung dengan Perhimpunan Filantropi Indonesia pada Januari 2018.

  1. Gita Wirjawan

Gita mendirikan Ancora Foundation pada tahun 2008 dengan fokus pada pemberian beasiswa tingkat lanjut untuk siswa terbaik dan terpandai di Indonesia.

  1. Theodore Rachmat

Theodore Rachmat merupakan pendiri Triputra Group. Yayasan tersebut bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, dan panti asuhan.

  1. Belinda Tanoto dan Anderson Tanoto

Belinda dan Anderson mendirikan yayasan Tanoto Foundation. Pada tahun 2019, yayasan tersebut 16,7 juta dolar AS atau sekitar Rp233,55 miliar untuk kepentingan pendidikan dan menghambat stunting bagi anak-anak Indonesia.

  1. Chairul Tanjung

Chairul Tanjung, beserta istrinya, Anita Ratnasari mendirikan CT ARSA Foundation. Adapun visi yayasan tersebut menurut laman resminya yakni memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan yang berkualitas serta optimalisasi kesehatan bagi masyarakat Indonesia yang kurang mampuFilantropi menurut Kamus Besar Bahasa

Penulis: Balqis Salsabila Yusuf (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Penyunting: Hilya Maylaffayza

ACT (Aksi Cepat Tanggap): ACCEPTANCE AND COMMITMENT THERAPY

Previous article

INDONESIA JADI NEGARA PALING DERMAWAN SEDUNIA? KOK BISA?

Next article

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *