Uncategorized

Kedudukan Dakwah di Dunia Penyiaran

Salah satu hal yang menarik dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran adalah narasi mengenai kolaborasi dengan media sosial. Dewasa ini, kita mengakui bahwa media sosial jauh lebih progresif yang dibuktikan dengan penggunanya yaitu lebih dari 70 juta pelanggan di Indonesia. Namun, adanya narasi ini bagi seorang pendakwah yang mencoba berdakwah melalui media sosial menimbulkan problematik yang berasal dari materi yang hendak dibawakan ketika berdakwah. Seorang pendakwah sejatinya adalah komunikator yang ketika menyampaikan sebuah materi membuat hati menjadi damai, pendakwah bukan seorang provokator. Fenomena media sosial yang begitu kuat, melahirkan banyaknya ustad ataupun pendakwah yang eksis di media sosial padahal pendidikannya tidak mencapai standar dai. Asalkan bisa beretorika kemudian membahas agama sedikit saja dengan syarat banyak followers pasti masyarakat gampang untung percaya. Di media sosial, semua bisa menjadi komunikator. Ilmu yang tidak memenuhi kriteria dan segmentasi materi dakwah terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan pendengar.

Pendakwah harus memperhatikan muatan atau substansi materi yang hendak disampaikan pada komunikan. Yang fatal adalah ketika materi dakwah ini membahas sesuatu yang sensitif yang kemudian di rekam oleh mad’u nya kemudian rekaman tersebut di potong-potong dan disebarluaskan di media sosial. Ini yang sering menimbulkan kesalahpahaman. Kita ambil contoh, ceramah Ustadzah Okky Setiana Dewi, dimana beliau membahas mengenai KDRT. Ceramah yang disampaikan oleh beliau menjadi ramai diperbincangkan 3 tahun kemudian dikarenakan hanya sepenggal cuplikan ceramah yang beredar di media sosial. Kesalahpahaman ini timbul karena video yang tersebar hanya cuplikan 3 menit, bukan ceramah full. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan dan memastikan bahwa ceramah yang hendak disampaikan tidak menimbulkan provokasi dan ambiguitas.

Teknologi dan komunikasi sangat erat kaitannya, dua elemen ini yang mengubah kehidupan masyarakat. Teknologi digital sudah tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Gawai sudah menjadi existence of activity. Dakwah yang disiarkan di televisi bisa direkam kemudian di sebar luaskan ke media sosial. Tak heran, terkadang penonton di media sosial lebih ramai di bandingkan televisi. Inilah PR bersama untuk seluruh masyarakat, seharusnya seiring majunya teknologi harus dibarengi dengan majunya pendidikan. Agar masyarakat tidak mudah terprovokasi.

Penulis: Yurini Nabilla (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Editor: Hilya Maylaffayza (Tim Redaksi Komuniasik)

Dilematika Dakwah di Media Sosial

Previous article

Tips Belajar Berjam-jam Anti Boring

Next article

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *