Pada tanggal 9 Oktober 2024, Universitas Indonesia (UI) menjadi tempat untuk perdebatan
yang sangat signifikan antara dua tokoh publik, Guru Gembul dan Ustadz Muhammad
Nuruddin yang berjudul, “Bisakah Keshalehan Akidah Islam Dibuktikan Secara Ilmiah?”
Ustadz Nuruddin adalah seorang cendekiawan Muslim yang memiliki latar belakang
pendidikan yang kuat. Beliau adalah lulusan dari Universitas Al Azhar di jalur Akidah dan
Filsafat. Beliau juga berdakwah, tidak selalu di tempat tradisional, tetapi beliau juga bermedia
sosial untuk menyebarkan ilmunya tentang Islam. Seorang lainnya adalah Guru Gembul. Guru
Gembul adalah seorang aktivis, kritikus, guru, dan content creator asal Indonesia. Beliau sering
menyampaikan pendapatnya di channel-nya di Youtube, tidak terkecuali tentang agama.
Dalam diskusinya, dia dengan keras memberikan indikasi bahwa dalam menyangkal atau
membenarkan agama harus ada referensi yang sangat kuat. Ustadz kebingungan telah
menggunakan logika argumen jalannya. Dia memberikan contoh dalam membuat rujak, Ustadz
Nuruddin dalam pidatonya menjelaskan bahwa dalam argumen juga harus seimbang. Dan salah
satu statement disampaikannya adalah “Orang ini bicara agama tanpa referensi. Referensi
logika nggak ada, filsafat nggak ada, akidah juga nggak ada”.
Meskipun Tuhan tidak dapat diindera, Ustaz Nuruddin mengatakan bahwa Allah dapat
dibuktikan secara rasional. Ia menggunakan argumen kosmologis, yang mengatakan bahwa
segala sesuatu yang ada pasti memiliki penyebab, dan Tuhan adalah penyebab pertamanya.
Guru Gembul, di sisi lain, menggunakan pendekatan empiris, yang mengatakan bahwa
keyakinan kepada Tuhan adalah tentang iman dan tidak dapat dibenarkan secara rasional. Ini
menyebabkan perdebatan antara dua tradisi pemikiran: empirisisme dan deduksi logis.
Guru Gembul sendiri mengakui bahwa komentarnya tentang akidah yang tidak dapat
diilmiahkan telah menyebabkan perdebatan di masyarakat. Beliau tetap percaya bahwa akidah
adalah komponen yang tidak dapat dirasionalkan atau diempiris. Ia menganggap bahwa tidak
semua keyakinan dapat dibenarkan dan diilmiahkan, tetapi ini tidak membuat pernyataannya
sah dalam diskusi ilmiah.
Satu faktor utama yang memengaruhi kemenangan Ustadz Nurudin dalam debat adalah fakta
bahwa Guru Gembul tidak memberikan referensi yang jelas. Ustaz Nurudin menyatakan bahwa
berbicara tentang agama tanpa referensi yang cukup sama dengan bermain-main dengan api
tanpa mengambil tindakan pencegahan. Argumentasi yang tidak memiliki dasar tidak dapat
meyakinkan orang lain. Guru Gembul sendiri mengakui bahwa komentarnya tentang akidah
yang tidak dapat diilmiahkan telah menyebabkan perdebatan di masyarakat. Beliau tetap
percaya bahwa akidah adalah komponen yang tidak dapat dirasionalkan atau diempiris.
Namun, kekurangan referensi jelas membuat argumennya tidak kuat dan tidak rasional.
Reaksi netizen sangat tajam setelah debat. Banyak orang mendukung Ustadz Nuruddin karena
pendekatan ilmiyahnya. Harapan Ustadz Nuruddin melalui akun Facebook pribadinya adalah
agar diskusi ini menjadi pelajaran bagi semua orang agar tidak sembarangan mengeluarkan
pendapat tentang agama.
Guru Gembul mengakui kekalahannya di depan umum setelah debat. Ia mengakui kekalahan
debatnya meskipun tetap percaya pada pendapatnya. Selain itu, debat ini menekankan betapapentingnya melakukan diskusi terbuka tentang masalah keagamaan. Ustaz Nuruddin berharap
masyarakat menjadi lebih cerdas dan tidak ragu untuk bertanya dan berbicara tentang akidah
Islam.
Penulis: M Taufik Fadhillah
Editor: Rafi Fatawa Putra

Leave a Reply