FOMO: Fenomena Kecemasan Sosial di Era Digital

Fear of Missing Out atau yang lebih dikenal dengan istilah FOMO telah menjadi fenomena sosial yang menarik untuk dikaji di era digital yang serba terkoneksi ini. Istilah yang pertama kali dipublikasikan oleh Dr. Dan Herman pada tahun 1996 ini awalnya muncul dalam konteks marketing dan bisnis. FOMO sendiri didefinisikan sebagai perasaan cemas akan kehilangan momen atau pengalaman yang seharusnya bisa dirasakan namun tidak dapat diraih. Menurut Herman, fenomena ini semakin signifikan seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan perilaku masyarakat di era digital.

Dalam kehidupan sehari-hari, FOMO dapat dengan mudah diidentifikasi melalui berbagai perilaku. Contoh sederhananya adalah ketika seseorang merasa tidak nyaman atau cemas saat melihat teman-temannya memposting foto sedang menonton konser. Orang yang mengalami FOMO akan merasa dirinya kurang atau tertinggal karena tidak bisa ikut merasakan pengalaman tersebut. Perasaan ini semakin diperkuat dengan kehadiran media sosial yang membuat setiap momen dapat dibagikan secara instan dan luas.

Istilah FOMO kemudian mencapai popularitas baru di dunia cryptocurrency. Fenomena ini terlihat dari banyaknya orang yang terjun ke dunia crypto tanpa pemahaman yang memadai, semata-mata karena tidak ingin ketinggalan tren atau takut kehilangan kesempatan. Mereka mengambil keputusan investasi berdasarkan emosi dan ‘hype’ semata, tanpa melakukan riset mendalam atau memahami risiko yang mungkin timbul.

Seiring waktu, penggunaan istilah FOMO mengalami pergeseran makna yang cukup signifikan. Banyak orang mulai menyalahgunakan istilah ini untuk melabeli berbagai aktivitas baru yang dilakukan seseorang. Misalnya, ketika ada orang yang baru memulai karir sebagai konten kreator, mereka langsung dilabeli sebagai “FOMO creator”. Begitu juga dengan orang yang baru memulai bisnis tertentu langsung dianggap sebagai “FOMO business“. Bahkan dalam dunia pendidikan, mahasiswa yang memilih jurusan populer atau seseorang yang mengikuti kursus coding pun tak luput dari label FOMO.

Penyalahgunaan istilah ini terjadi karena beberapa faktor. Pertama, rendahnya kemampuan literasi digital masyarakat yang menyebabkan kurangnya pemahaman tentang konteks asli dari istilah tersebut. Kedua, adanya kebiasaan menggunakan buzzword atau istilah yang sedang trending tanpa benar-benar memahami maknanya. Ketiga, ego yang tinggi membuat orang enggan mengakui kekeliruan ketika menggunakan istilah tersebut secara tidak tepat.

Fenomena ini telah menciptakan dampak negatif dalam masyarakat. Selain menciptakan stigma negatif pada para pemula di berbagai bidang, hal ini juga dapat menghambat kreativitas dan inovasi karena orang menjadi takut untuk memulai sesuatu yang baru. Lebih jauh lagi, penyalahgunaan istilah ini telah menurunkan kualitas diskusi di media sosial dan menciptakan lingkungan yang toxic di berbagai komunitas.

Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan upaya kolektif untuk meningkatkan literasi digital masyarakat. Edukasi tentang penggunaan istilah yang tepat perlu terus dilakukan, disertai dengan pembangunan budaya diskusi yang lebih sehat. Yang tak kalah penting adalah mendorong masyarakat untuk selalu melakukan verifikasi sebelum menggunakan istilah tertentu. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan penggunaan istilah FOMO bisa kembali pada konteks yang sebenarnya dan menciptakan lingkungan digital yang lebih positif.

Penulis: Saddam Choliq
Editor: Fira Alraen


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *