Media sosial dan aplikasi pesan instan memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Perkembangan teknologi ini juga membawa sejumlah perilaku baru yang dapat mempengaruhi kualitas relasi antarmanusia. Dua fenomena yang semakin banyak dibicarakan adalah ghosting dan breadcrumbing, dua pola komunikasi yang sering kali merusak hubungan, baik secara emosional maupun psikologis. Kedua istilah ini mungkin belum terlalu akrab di telinga semua orang, tetapi efeknya semakin nyata di dalam dinamika hubungan digital. Ghosting dan breadcrumbing merupakan contoh nyata dari komunikasi yang terfragmentasi, di mana seseorang secara sengaja memutus atau memberikan sinyal komunikasi yang tidak jelas, meninggalkan pihak lain dalam kebingungan dan ketidakpastian. Ghosting dikatakan sebagai tindakan di mana seseorang tiba-tiba menghentikan semua komunikasi tanpa memberikan penjelasan. Orang yang melakukan ghosting disebut ghoster menghilang seolah-olah dia menjadi hantu (ghost) yang tidak dapat dijangkau atau dihubungi oleh pihak lain. Perilaku ini sering terjadi dalam konteks hubungan romantis, tetapi tidak jarang juga terjadi dalam hubungan persahabatan atau profesional.
Misalnya, bayangkan anda sedang menjalin hubungan yang cukup dekat dengan seseorang, baik itu melalui pesan teks, panggilan telepon, atau bahkan bertemu langsung. Tiba-tiba, tanpa peringatan atau alasan yang jelas, orang tersebut berhenti merespons pesan atau panggilan anda. Tidak ada tanda-tanda penjelasan, permintaan maaf, atau alasan yang bisa menjelaskan mengapa komunikasi mendadak terputus. Itulah ghosting. Perilaku ini dapat sangat merusak secara emosional bagi pihak yang dighosting. Ketidakjelasan dan ketidakpastian yang ditimbulkan sering kali menyebabkan perasaan bingung, cemas, bahkan meragukan diri sendiri. Orang yang dighosting mungkin bertanya-tanya, Apa yang salah? Apa saya yang berbuat salah?, pertanyaan yang sering kali tidak akan pernah mendapatkan jawaban.
Jika ghosting adalah tindakan memutuskan komunikasi secara tiba-tiba, maka breadcrumbing adalah perilaku yang lebih halus dan terselubung. Istilah ini diambil dari kata breadcrumb yang berarti remah-remah roti, yang mengacu pada perilaku seseorang yang memberikan perhatian atau tanda-tanda minat yang minim dan sporadis, seperti memberi remah-remah dalam sebuah hubungan. Orang yang melakukan breadcrumbing memberikan harapan palsu kepada orang lain dengan cara mengirim pesan sesekali atau menunjukkan minat, tetapi tanpa niat yang jelas untuk membangun hubungan yang serius. Ini sering kali terjadi di media sosial, di mana seseorang mungkin hanya mengirimkan emoji, like, atau komentar yang ambigu, cukup untuk menjaga ketertarikan orang lain, tetapi tanpa komitmen atau kepastian. Misalnya, seseorang mungkin sesekali mengirim pesan seperti, Hai, apa kabar? atau Kita harus ketemu lagi suatu saat,tetapi tidak pernah benar-benar mengambil tindakan lebih lanjut. Perilaku ini bisa membuat pihak yang menjadi korban breadcrumbing merasa diombang-ambingkan, tidak tahu di mana mereka berdiri dalam hubungan tersebut.
Adapun kedua pola komunikasi ini dapat memiliki dampak emosional yang cukup signifikan. Ghosting sering kali meninggalkan perasaan tidak dihargai dan dilupakan, sementara breadcrumbing menciptakan perasaan harapan palsu dan ketidakpastian. Dalam banyak kasus, keduanya bisa menimbulkan luka emosional yang mendalam. Salah satu alasan mengapa ghosting dan breadcrumbing terasa begitu menyakitkan adalah karena sifat media sosial yang mempercepat dan memperluas jangkauan komunikasi. Di masa lalu, ketika komunikasi masih terbatas pada surat atau telepon, perilaku seperti ini mungkin tidak terlalu sering terjadi atau terdeteksi. Akan tetapi, dengan adanya media sosial dan aplikasi pesan, di mana orang bisa dengan mudah saling mengirim pesan atau menghilang, perilaku ini menjadi semakin lazim. Selain itu, hubungan yang terbentuk di dunia maya sering kali kurang memiliki kedalaman emosional yang sama dengan hubungan tatap muka, sehingga lebih rentan terhadap perilaku tidak bertanggung jawab. Orang yang melakukan ghosting atau breadcrumbing mungkin merasa tidak perlu menghadapi konsekuensi emosional secara langsung, karena mereka tidak harus melihat reaksi pihak lain secara langsung.
Ada beberapa alasan mengapa ghosting dan breadcrumbing semakin sering terjadi di era digital. Salah satunya adalah kenyamanan dan anonimitas yang diberikan oleh media sosial. Orang dapat dengan mudah menghilang atau memberikan sinyal yang ambigu tanpa perlu bertanggung jawab secara langsung. Selain itu, dengan begitu banyaknya pilihan di aplikasi kencan dan media sosial, orang mungkin merasa bahwa mereka tidak perlu berinvestasi secara emosional dalam satu hubungan. Faktor lain yang berperan adalah budaya komunikasi yang semakin cepat dan instan. Kita hidup di dunia yang didorong oleh informasi yang cepat dan umpan balik instan. Akibatnya, hubungan pun sering kali diperlakukan dengan cara yang sama cepat dibentuk, cepat juga ditinggalkan, tanpa banyak refleksi atau usaha untuk memperbaiki masalah yang ada.
Adapun jika menjadi korban ghosting atau breadcrumbing, penting untuk mengingat bahwa perilaku tersebut lebih mencerminkan karakter dan kedewasaan emosional pelaku daripada diri anda. Tindakan yang disengaja untuk mengabaikan atau memberikan harapan palsu bukanlah kesalahan. Meskipun rasanya menyakitkan, lebih baik melepaskan hubungan yang didasarkan pada ketidakpastian daripada terus-menerus terjebak dalam siklus yang tidak sehat. Selain itu, penting untuk menetapkan batasan yang jelas dalam interaksi digital. Jika merasa seseorang mempermainkan emosi atau tidak serius dalam berkomunikasi, jangan ragu untuk berbicara atau memutuskan hubungan tersebut. Bersikap jujur dan terbuka tentang apa yang diinginkan dalam sebuah hubungan adalah langkah penting untuk melindungi diri dari potensi luka emosional. Dengan menyadari adanya pola-pola ini dan memahami dampaknya, kita bisa lebih bijak dalam membangun hubungan yang lebih sehat dan bermakna di dunia yang semakin terhubung ini.
Penulis: Tasya Ashma Rianda
Editor: Salsa Utami

Leave a Reply