Pengaruh Bullying Verbal Terhadap Kesehatan Mental Gen Z

Generasi Z merupakan generasi yang tumbuh di era digital. Meskipun di era digital memberikan keuntungan dalam berbagai aspek kehidupan, namun di sisi lain era digital juga menimbulkan tantangan khususnya bagi pengguna media sosial pada generasi Z. Salah satu tantangannya adalah adanya perilaku bullying, khususnya bullying verbal seperti hinaan, ejekan, komentar negatif, hingga penyebar rumor negatif yang dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan mental terutama bagi Gen Z yang lebih rentan karena eksposur yang tinggi terhadap media sosial.

Bullying verbal adalah bentuk intimidasi melalui kata-kata/bahasa tanpa melakukan kekerasan fisik yang bertujuan untuk menyakiti atau merendahkan seseorang, perilaku tersebut mencakup ejekan, pelecehan verbal, penghinaan, julukan yang merendahkan, serta sindiran yang dilakukan secara langsung atau melalui platform online. Meski hanya melalui kata-kata, perilaku tersebut memberikan efek yang sangat merusak terutama dalam aspek psikolog manusia. 

Setiap perilaku dan ekspresi gerak-gerik individu merupakan cerminan dorongan dari kondisi suasana mental. Mental terkait dengan akal (pikiran/rasional), jiwa, etika (moral) dan tingkah laku (perilaku). Kesehatan mental kondisi yang memungkinkan terjadinya perkembangan optimal baik fisik, intelektual, dan emosional sesuai dengan keadaan orang lain atau merujuk pada kondisi emosional, psikologis, dan sosial seseorang. Meningkatnya angka gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, hingga kecenderungan bunuh diri menjadi isu penting yang sangat relevan pada kesehatan mental Gen-Z. Beragam penyebab dari gangguan ini, namun bullying verbal adalah salah satu faktor utama yang memperburuk kondisi mental mereka.

We Are Social mencatat ada 139 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada Januari 2024. Jumlahnya setara 49,9% dari total populasi nasional. Berdasarkan laporan terbaru Digital Civility Index (DCI) yang dirilis oleh Microsoft, tingkat kesopanan digital pengguna internet, warganet Indonesia menjadi warganet dengan tingkat kesopanan terburuk se-Asia Tenggara. Hal tersebut didasari oleh beberapa hal, tiga diantaranya adalah ujaran kebencian, diskriminasi, dan perundungan online. Hal tersebut tentu membawa dampak buruk serta adanya faktor yang mempengaruhi seberapa besar dampak tersebut terhadap kesehatan mental Gen-Z.

Dampak bullying verbal terhadap kesehatan mental:

  1. Depresi dan kecemasan yang berlebihan yang memicu perasaan rendah diri, ketidakberdayaan, dan hilangnya harga diri.
  2. Stres dan tekanan psikologis yang dapat mengalami gangguan tidur, seperti insomnia.
  3. Sebagian menjadi pemalu dan menarik diri dari pergaulan (berlaku minder).
  4. Negatif thinking
  5. Tinggi akan resiko bunuh diri karena putus asa dan tidak mampu untuk keluar dari situasi bullying.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi seberapa besar dampak bullying verbal terhadap kesehatan mental Gen Z:

  1. Penggunaan Media Sosial: Gen Z yang terhubung dengan era digital yang mana banyak platform media sosial yang seringkali menjadi ruang bagi pelaku bullying verbal. Kecepatan penyebaran informasi di media sosial membuat bullying atau pelaku dapat menyebar lebih luas dan dengan cepat, memperburuk dampaknya bagi korban.
  2. Kurangnya Dukungan Emosional: Dukungan dari orang sekitar, yaitu keluarga dan teman-teman dapat meminimalisir dampak bullying. Gen Z yang tidak memiliki dukungan emosional yang cukup, cenderung lebih rentan terhadap dampak buruk bullying verbal.
  3. Ketahanan Diri: Setiap orang memiliki tingkat ketahanan diri dalam menghadapi tekanan sosial yang berbeda-beda. Mereka yang memiliki ketahanan diri yang lebih rendah akan lebih rentan terhadap dampak negatif bullying verbal dan lebih cepat mempengaruhi kesehatan mental. Dengan demikian, mereka yang bijak dalam menerima dan memberi informasi akan terhindar dari dampak bullying.

Adapun cara untuk mengatasi dan menghindari dari pengaruh bullying verbal ini yaitu:

  1. Pengguna media sosial harus lebih bijak dalam bermedia sosial.
  2. Mengurangi intensitas posting di media sosial.
  3. Saling mengingatkan ketika menemukan komentar kekerasan verbal.
  4. Mengarahkan kecenderungan alamiah ke arah nilai-nilai yang luhur dan berpikir positif.
  5. Edukasi tentang dampak bullying perlu ditingkatkan baik di sekolah maupun di rumah. Anak-anak dan remaja harus diajarkan tentang pentingnya menjaga kesehatan mental dan dampak buruk dari bullying, baik sebagai pelaku maupun korban.

Penulis : Sindy Afriany

Editor : Syifa Salsabila


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *