Impulsive Buying Dari Tren Boneka Labubu

Labu, Labu, Labu Labu… Siapa yang tidak asing dengan kata tadi? Itu adalah Labubu Song yang kerap kita dengar di salah satu platform media sosial, Tik Tok, ketika ada orang yang membuat vidio tentang sebuah karakter boneka yang sedang viral saat ini bernama Labubu. Boneka Labubu merupakan karya dari seorang seniman bernama Kasing Lung yang berasal dari Hong Kong dan dijual di Pop Mart, sebuah perushaan mainan asal China yang tersebar di berbagai negara, salah satunya Indonesia. Dilansir dari au.popmart.com, Labubu merupakan karakter monster yang berasal dari dongeng Nordik yang digambarkan dengan badan yang kecil berbulu, telinga tinggi runcing dan gigi bergerigi. Boneka Labubu viral disebabkan Lisa Blackpink yang memposting dirinya dengan menunjukkan boneka Labubu di Instagram. Hal itu membuat boneka ini viral di Thailand, tempat asal Lisa, dan berujung sampai Indonesia. 

Lalu apa masalahnya? Masalah dari tren ini adalah terciptanya impulsive buying atau pembelian impulsive dari adanya tren tersebut. Apa itu impulsive buying atau pembelian impulsif? perilaku atau kebiasaan membeli barang tanpa direncanakan dan biasanya tidak dibutuhkan atau memiliki manfaat tertentu. Karena tren ini, banyak orang yang membeli boneka ini tanpa mementingkan manfaat dari barang tersebut. Bagi kolektor boneka mungkin ini adalah hal yang biasa namun, saat ini banyak orang yang rela antri bahkan menimbulkan keributan di salah satu toko Pop Mart di Indonesia karena FOMO (Fear Of Missing Out) atau takut ketinggalan tren. 

Pada media sosial, salah satunya Tik Tok, kita dapat melihat bagaimana para kreator berlomba-lomba membeli lebih dari satu boneka Labubu untuk dijadikan sebagai ide konten saat ini. Bahkan ada yang sampai membeli boneka Labubu, untuk dijual kembali dengan harga yang berkali-kali lipat dari harga normalnya. Harga Labubu sendiri berkisar dari ratusan hingga jutaan, harga yang sangat fantastis untuk sebuah boneka namun, karena adanya tren dan ketakutan akan tertinggalnya tren, orang-orang saat ini banyak yang rela menghabiskan ratusan hingga jutaan rupiah untuk sebuah boneka. Di lain sisi, banyak warganet juga yang berkomentar negatif tentang tren boneka ini. Ada yang berpendapat bahwa tampilan boneka Labubu itu seram, tidak lucu, atau membandingkan dengan karakter boneka lain yang memilliki tampilan lebih lucu. Serta banyak juga yang menyayangkan pembelian boneka tersebut, hingga rela antri dan membuat keributan dengan pihak mall.

Dari tren ini, kita bias melihat bagaimana pengaruh besar seorang Lisa Blackpink terhadap apa yang dia gunakan. Banyak orang yang berusaha untuk dapat menggunakan pakaian, tas, sepatu atau aksesoris bahkan boneka yang sama dengan idolanya. Hanya karena Lisa Blackpink memposting dirinya dengan sebuah boneka bernama Labubu, kini penjualan boneka tersebut di Pop Mart melonjak naik. Bahkan, banyak yang menjual dupe atau tiruannya, serta menjual baju atau sticker dengan gambar Labubu sebagai penarik pembeli saat ini. Menurut kalian gimana nih tentang tren boneka Labubu yang satu ini, coba ungkapkan pendapat kalian di komentar ya!

Penulis : Ken Ayu Dharma Ananda

Editor : Arif Rahmatulhakim


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *